Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ketika Mahasiswa Undip Mengajar di Desa Terpencil Kecamatan Wanayasa Banjarnegara

Mahasiswa UNDIP yang tergabung dalam Gerakan Undip Mengajar (GUM) memulai aktifitas mengajar di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 4 Jatilawang.

Penulis: khoirul muzaki | Editor: m nur huda
Tribun Jateng/ Khoirul Muzakki
Lomba cerdas Cermat di SDN 1 Jatilawang Kecamatan wanayasa Banjarnegara, oleh mahasiswa Undip 

Mereka juga menemui sejumlah anak yang punya kebiasaan masuk sekolah pukul 09.00 Wib dengan alasan tertentu.

Kehadiran mereka tentu bukan hanya bertugas mengangkat masalah itu ke permukaan. Terpenting, mereka dituntut mampu menyelesaikan masalah tersebut sehingga kualitas pendidikan meningkat.

Mereka menyusun strategi bagaimana agar minat belajar siswa meningkat. Para mahasiswa ini memutuskan untuk jemput bola. Mereka tak segan mendatangi rumah-rumah siswa di desa dan menawarkan les privat gratis kepada orang tua.

Langkah ini dinilai efektif mempercepat peningkatan kemampuan siswa menguasai pelajaran. Sehingga mereka bisa mengejar ketertinggalan dari teman-temannya yang lain.

"Kami adakan les privat ke rumah-rumah. Sambutan orang tua positif,"katanya

Puluhan peserta GUM di Kecamatan Wanayasa bukan hanya memerhatikan sektor pendidikan. Mereka juga berusaha menyentuh isu lain dan memecahkan permasalahannya.

Pengajar GUM lain, Fadhila Berliannisa menyebut pihaknya menjumpai angka stunting atau bocah dengan tinggi badan kurang akibat kurang gizi cukup tinggi di Kecamatan Wanayasa. Ini ternyata tak lepas dari tingginya angka pernikahan dini di kecamatan itu.

Usia orang tua yang masih terlampau muda berisiko meningkatkan angka stunting. Mereka sejatinya belum siap membesarkan anak karena alasan finansial maupun kestabilan emosi yang kurang.

Adapun problem pernikahan dini itu berbanding lurus dengan tingginya angka putus sekolah di wilayah tersebut. Karenanya, pekerjaan rumah pemerintah bukan hanya memperbaiki gizi ibu dan anak untuk mencegah stunting.

Pemerintah juga wajib menekan angka putus sekolah dengan meningkatkan minat belajar siswa serta kualitas pendidikan di setiap daerah.

"Untuk masalah stunting dan pernikahan dini, kami sosialisasi ke masyarakat,"katanya

Para mahasiswa ini bukan hanya mengajar pelajaran sesuai kurikulum. Mereka membuka kelas inspirasi agar anak-anak di desa berani bermimpi dan menggapai cita-cita. Pembelajaran bukan hanya dilakukan di dalam ruang kelas, namun juga di lapangan hingga kebun pertanian warga yang disebut mereka sebagai sekolah alam.

Mentranser pengetahuan ke anak-anak bukan perkara mudah. Agar materi yang disampaikan mudah ditangkap, mereka harus bisa menyelami kehidupan anak yang penuh dengan keceriaan. Karenanya, mereka mendesain pembelajaran semenarik mungkin bagi para siswa, semisal dengan cara mendongeng, hingga mengajak bernyanyi dengan lagu anak.

Awal Agustus ini, mereka juga menggelar Lomba Cerdas Cermat (LCC) di setiap SD N dampingan GUM untuk memotivasi siswa dalam belajar. Pemenang LCC kemudian mewakili sekolahnya masing-masing untuk bertarung di LCC tingkat Kecamatan Wanayasa.

"Selain membuka kelas inspirasi, kamu juga adakan lomba mewarnai dan LCC,"katanya

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved