Hadapi Revolusi Industri 4.0, Pelaku Usaha Batik Milenial Dilatih Taktik Pemasaran di Era Digital
Bupati Pekalongan Asip Kholbihi mengatakan saat ini produk luar negeri mendominasi dalam negeri
Penulis: Indra Dwi Purnomo | Editor: muslimah
TRIBUNJATENG.COM, KAJEN - Puluhan pelaku usaha batik di Kabupaten Pekalongan terutama dari kalangan milenial mendapatkan pelatihan pemasaran di era digital untuk siap bertarung di revolusi industri 4.0.
Bupati Pekalongan Asip Kholbihi mengatakan saat ini produk luar negeri mendominasi dalam negeri.
Oleh karena itu, sudah saatnya untuk dibalas. Untuk membalas membanjiri produk dalam negeri di luar negeri.
Menurutnya, ini tidak bisa dilakukan secara serta merta, namun membutuhkan proses dan kompetensi.
"Kita siapkan sumber daya manusianya sesuai dengan tema kemerdekaan tahun 2019 ini. Khusus untuk bidang pemasaran, alhamdulilah pada hari ini Kabupaten Pekalongan mendapat kepercayaan dari Fortuna untuk melakukan training dalam konteks bagaimana memasarkan batik lintas batas terutama dengan basis pemasaran online.
Ini butuh trik dan cara-cara yang harus dipelajari berbasis pengalaman yang sudah sukses dari kawan-kawan dari Fortuna ini nanti akan ditularkan ke binaan Dekranasda Kabupaten Pekalongan, karena ini kerjasama dengan Dekranasda Kabupaten Pekalongan," kata Bupati Asip saat ditemui usai membuka pelatihan di Aula Lantai II Disperindagkop dan UMKM Kabupaten Pekalongan, Minggu (18/8/2019).
Asip mengungkapkan pada pelatihan ini, semua anak-anak muda dikumpulkan, termasuk dari perwakilan disabilitas, agar mereka punya pengalaman untuk memasarkan produknya di era digital ini.
"Jika kita sudah membangun sumber daya manusia maka untuk membalas banjirnya produk luar ke kita, kita bisa membanjiri produk Indonesia di luar negeri saya yakini bisa dilakukan.
Apalagi produk yang khas di Kabupaten Pekalongan. Di sini banyak sekali, tinggal mutunya ditingkatkan, kuantitas dan kualitasnya dijaga sekaligus cara untuk bisa memenangkan pertarungan di dunia global ini memang membutuhkan cara-cara khusus,"ungkapnya.
Asip menambahkan di Kabupaten Pekalongan memiliki 53 ribu UMKM, 26 ribu di antaranya bergerak di sektor batik dan konveksi dan turunannya seperti jins, koko, dan daster.
"Suplai nasional cukup besar disumbang dari Pekalongan. Daerah industri akan lebih elok bisa tingkatkan lagi pemasarannya. Sehingga akan memunculkan harga yang kompetitif," ujarnya.
Sementara itu, CEO Fortuna AG Edhi Bawono mengatakan, era industri 4.0, dunia IT merubah pola bisnis di duniaapakah itu finansial, transportasi, hingga fashion.
Menurutnya, di era revolusi industri ini semuanya berubah. Perubahan ini, terjadi di generasi milenial dan generasi Z, sehingga pelatihan itu lebih menyasar kaum milenial di Pekalongan.
"Jika kita tidak mengimbangi perkembangan yang ada, maka akan menjadi batu sandungan yang besar sekali khususnya di industri revolusi 4.0 ini," tandasnya.
Edhi mengungkapkan bahwa 'Batik Tiada Batas' diartikan bahwa dengan memanfaatkan teknologi digital, batik bisa dikenal dan dijual ke mana pun di dunia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/bupati-pekalongan-asip-kholbihi-membuka-pelatihan.jpg)