Meriahkan HUT RI, Merah Putih Sepanjang 1.000 Meter Dikirab Keliling Desa di Pecangaan Jepara

IPNU-IPPNU beserta Ansor-Banser dan masyarakat Desa Kali‎ombo, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, menggelar kirab bendera merah-putih 1.000 meter

Meriahkan HUT RI, Merah Putih Sepanjang 1.000 Meter Dikirab Keliling Desa di Pecangaan Jepara
ISTIMEWA
Warga bersama IPNU-IPPNU Kaliombo Jepara Kirab Bendera Merah-Putih Sepanjang 1.000 Meter 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Yayan Isro' Roziki

TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) - Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) beserta Ansor-Banser dan masyarakat Desa Kali‎ombo, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, menggelar kirab bendera merah-putih sepanjang 1.000 meter.

Merah Putih sepanjang satu kilometer itu dikirab keliling desa setempat.

‎"Selain untuk memperingati Hari Kemerdekaan, tujuan utama kami adalah agar para generasi muda penerus bangsa ini tidak luntur nasionalismenya. Kita arak bendera merah-putih 1.000 meter keliling desa agar seluruh lapisan masyarakat tergugah jiwa nasionalismenya," kata Kepala Desa (Kades) Kaliombo, Aqsol Amri, melalui layanan pesan singkat WhatsApp (WA), Senin (19/8/2019).

Kaliombo merupakan desa kecil yang terletak diperbatasan Kabupaten Jepara dan Demak‎.

Kendati berada di 'pinggiran', masyarakatnya sangat antusias untuk memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia.

Menurut dia, arak-arakan bendera sepanjang 1.000 meter ini bukan kali pertama digelar.

"Ini sudah kami lakukan dalam beberapa tahun terakhir. Cara masyarakat memperingati kemerdekaan beragam, ini cara yang kami pilih, menyesuaikan perkembangan zaman‎ dan kondisi masyarakat di sini," tuturnya.

‎Di samping kirab bendera, sambung Aqsol, pada tahun ini ada juga hal berbeda.

Yakni, adanya pementasan teater yang dimainkan oleh pemuda-pemudi desa, dengan mengangkat tema perjuangan dan persatuan.

"Kita semua tahu bahwa diera globalisasi ini budaya asing banyak masuk di Indonesia dan budaya asli Jawa, budaya Indonesia mulai luntur. Teater perjuangan ini untuk mengingatkan bahwa yang baru itu salah (budaya) dan merusak desa serta negara, budaya asli kita atau yang lama jangan dilupakan, harus dipertahankan karena terbukti membawa kemerdekaan, kemajuan dan menjaga persatuan bangsa," tandasnya. (yan)

Penulis: yayan isro roziki
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved