Minggu, 12 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Kisah Penerima Bantuan PKH, dari Tinggal di Rumah Berdinding Bambu Kini Jadi Pengusaha Konveksi

Berkat bantuan program keluarga harapan (PKH), warga Dusun Cabean Kelurahan Wukiran Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Semarang miliki usaha konveksi.

Penulis: amanda rizqyana | Editor: suharno
IST
Usaha konveksi Sujinah, warga Dusun Cabean, Kelurahan Wukiran, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Semarang yang memiliki sembilan karyawan. Sebelumnya ia merupakan Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang terdaftar dalam Program Keluarga Harapan (PKH) Kabupaten Semarang karena kondisi ekonominya. 

TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Memiliki enam anggota keluarga dengan suami yang bekerja sebagai buruh bangunan, ditambah memiliki anak yang sakit, kemudian tinggal di rumah berdinding bambu.

Hal tersebut membuat keadaan Sujinah (43), warga Dusun Cabean Kelurahan Wukiran Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Semarang tak banyak memiliki pilihan.

Ia dan suami yang hanya berbekal ijazah SMP ditambah dengan keadaan ekonomi yang lemah akhirnya mendapat bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) pada 2011.

Sujinah pernah bekerja sebagai buruh jahit di perusahaan garmen pada 1998-2005, namun kemudian ia tidak bekerja.

Setelah setahun menerima bantuan PKH, dengan bekal keterampilan menjahit, ia berinisiatif membeli mesin jahit untuk bisa membuka usaha di rumah.

"Setahun setelah mendapatkan bantuan PKH, saya gunakan uangnya untuk membeli mesin jahit dan mulai menerima pesanan konveksi di rumah," ujarnya pada Tribun Jateng, Selasa (3/9/2019) siang.

Sujinah menceritakan alasannya keluar dari pekerjaan karena anaknya memiliki benjolan di kepala dan mengharuskannya mendampingi pengobatan anaknya di Rumah Sakit Pusat Karyadi Kota Semarang, sehingga ia pun keluar dari pekerjaan.

Setelah itu, ia pun fokus pada kesembuhan puteranya sembari memutar otak untuk bisa membantu perekonomian keluarga.

Dengan bekal bantuan dana dari PKH, secara perlahan, Sujinah bisa mengembangkan usahanya sembari memperbaiki kemampuan ekonominya.

Ia membuka usaha tersebut di tempat tinggalnya dan dengan kesadaran bahwa ia harus mentas dari keadaan ekonomi yang menjeratnya.

Awalnya ia menggeluti sendiri usaha konveksi rumahan sejak 2012 hingga pada 2015 usahanya berkembang dan ia memiliki seorang karyawan.

"Dua tahun kemudian itu saya berpikir untuk berhenti menerima bantuan karena saya merasa sudah mandiri dan sudah dapat menghidupi diri sendiri," tambahnya.

Setelah memiliki karyawan, ia menerima pesanan seragam sekolah dan kaos hingga dari luar Pulau Jawa.

Ia mempekerjakan tetangga di sekitar lingkungan rumahnya dan beberapa karyawan berasal dari luar wilayah tempat tinggalnya.

Melihat peluang usaha yang baik, Sujinah kemudian mengajukan kredit modal usaha melalui BRI Dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk pembelian mesin jahit dan kini ia memiliki sembilan orang karyawan.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved