Pustakawan Utama Perpusnas Ini Sebut Masyarakat Indonesia Masih Tak Suka Membaca
Masyarakat Kota Semarang diimbau untuk lebih sering mendatangi perpustakaan yang ada.
Penulis: akbar hari mukti | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Masyarakat Kota Semarang diimbau untuk lebih sering mendatangi perpustakaan yang ada.
Hal tersebut agar pendidikan literasi di Kota Semarang semakin maksimal pengaplikasiannya.
Pustakawan Utama Perpusnas, Dra. Nelwati menjelaskan literasi punya peranan penting mendorong kesejahteraan masyarakat.
Perpustakaan, juga memiliki peran penting meningkatkan literasi masyarakat.
"Kami mengimbau masyarakat Kota Semarang memanfaatkan adanya perpustakaan secara lebih," paparnya di Kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jateng, Semarang, Rabu (11/9/2019).
• Selama Operasi Patuh Candi 2019, Hanya 2 Kecelakaan Lalu Lintas Terjadi di Kabupaten Tegal
• Kapolres Brebes Lantik 40 Satpam Bersertifikat Gada Pratama
• Asah Kemampuan Anjing Pelacak, Unit Satwa K-9 Polres Kebumen Rutin Lakukan Latihan
• Nikmati 3 Persen Total Pencairan Kredit Fiktif, Pimpinan BRI Purbalingga Ditetapkan Tersangka
Dari data yang ia pegang, saat ini Indonesia berada di rangking 60an untuk negara dengan tingkat literasi warganya.
Menurutnya hal itu berarti orang-orang Indonesia masih tak suka membaca.
"Padahal kemampuan berliterasi merupakan pembelajaran sepanjang hayat," ungkap dia.
Saat ini menurutnya perpustakaan yang ada di seluruh Indonesia, termasuk di Kota Semarang sudah lebih baik dari sebelumnya.
Di antaranya penyediaan informasi baik versi cetak maupun daring sudah cukup lengkap.
"Masyarakat berliterasi tinggi mendorong kualitas hidup lebih baik," imbuhnya.
Selain itu, ia menerangkan pihaknya mengembangkan perpustakaan berbasis inklusi sosial.
Hal itu untuk memperkuat peran perpustakaan menjangkau masyarakat pedesaan.
"Hal itu untuk mendukung akses informasi berkualitas, dan mengurangi kesenjangan akses dengan masyarakat perkotaan," paparnya.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jateng Prijo Anggoro menambahkan pihaknya fokus terhadap pengembangan berbasis inklusi sosial.
Menurutnya perpustakaan di Jateng telah memiliki koleksi buku yang cukup lengkap.
Hanya sedikit perpustakaan yang memiliki koleksi bacaan kurang lengkap.
"Kita juga kembangkan terus agar mereka yang disabilitas mendapatkan akses maksimal."
"Semisal bacaan bagi tunanetra, dan akses bagi penyandang disabilitas lainnya," paparnya. (Ahm)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/pustakawan-ahm.jpg)