Kamis, 9 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Jeritan Petani Bawang Merah di Brebes: Kami Terpaksa Pakai Air Comberan

Krisis air yang terjadi di Kabupaten Brebes terus berlangsung hingga kini. Kondisi itu memaksa para petani bawang merah

Penulis: m zaenal arifin | Editor: Catur waskito Edy
Tribunjateng.com/Fajar Bahruddin Achmad
Panen terakhir di musim kemarau petani bawang merah di Kelurahan Cabawan, Kecamatan Margadana, Kota Tegal. 

TRIBUNJATENG.COM, BREBES - Krisis air yang terjadi di Kabupaten Brebes terus berlangsung hingga kini. Kondisi itu memaksa para petani bawang merah di Brebes memakai air limbah rumah tangga untuk mengolah sawah pada masa tanam kali ini.

Di antaranya seperti dilakukan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di Kelurahan Gandasuli, Kecamatan Brebes. Mereka menggunakan mesin pompa untuk mengalirkan air limbah meski berwarna hitam pekat dan berbau.

Anggota Gapoktan Kelurahan Gandasuli, Wasro mengatakan, para petani terpaksa memanfaatkan air limbah karena kesulitan mendapatkan air untuk mengolah sawah agar bisa ditanami bawang merah, meski air limbah tidak baik bagi tanaman nantinya.

"Kami bingung tidak ada air sama sekali. Padahal ini harusnya sudah masuk masa tanam bawang merah. Jadi terpaksa kami pakai air limbah rumah tangga," katanya, Selasa (29/10).

Menurut dia, pemanfaatan air limbah rumah tangga untuk menyiram sawah sudah dilakukan para petani sejak 5 bulan lalu. Dampak jika memakai air limbah nantinya tanaman bawang merah kurang sehat, dan pertumbuhannya agak kerdil.

Hanya saja, karena sudah tidak ada air yang bisa digunakan untuk mengaliri sawah, para petani terpaksa menggunakan air limbah tersebut. "Kalau tidak mau kerdil, ya air comberan (limbah-Red) ini harus diendapkan dulu selama satu hari," paparnya, sembari menunjukkan air yang digunakan.

Untuk mengalirkan air limbah itu, para petani menggunakan mesin penyedot air. Untuk bahan bakarnya, petani harus mengeluarkan biaya lebih, yaitu 3 liter BBM jenis Pertalite per harinya.

"Pada masa tanam ini kami untungnya sedikit sekali, karena harus mengeluarkan biaya produksi lebih besar, seperti untuk pupuk, obat pertanian, tenaga buruh, dan BBM," ungkapnya.

Air asin

Sebenarnya, Wasro menuturkan, ada bantuan sumur pantek di tujuh titik untuk mengatasi kekurangan air saat musim kemarau. Hanya saja, sumur-sumur itu mengeluarkan air asin, sehingga tidak cocok untuk tanaman.

Adapun, petugas pelaksana teknis pengairan (ulu-ulu), Sutarna menyatakan, petani memanfaatkan air limbah rumah tangga yang berada di sungai Sigeleng, Brebes. Dari wilayah kota, air limbah disedot dengan pompa air bertenaga besar, kemudian dialirkan ke perwahan.

"Pakainya Solar sehari bisa 20 liter. Ini untuk dialirkan ke selatan, ke sawah-sawah petani. Kemudian mereka menyedot air comberan ini dengan pompa masing-masing," jelasnya.

Air limbah tersebut diperoleh dari berbagai titik perumahan dan kawasan permukiman warga. Air disedot dan dialirkan ke saluran irigasi, sehingga bisa langsung diambil para petani.

"Air di bagian atas sudah kering. Mau tak mau, kami yang di bawah harus mencari alternatif air lain. Ya adanya air limbah itu," ucapnya. (nal)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved