Rabu, 8 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

OPINI Santi Pratiwi T Utami : Minimalkan Literacy Shaming

KETERAMPILAN menulis merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki guru profesional. Selain sebagai upaya Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

Oleh  Santi Pratiwi T Utami

Dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Negeri Semarang

KETERAMPILAN menulis merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki guru profesional. Selain sebagai upaya Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB), menulis juga merupakan bentuk aktualisasi diri, episentrum peningkatan kualitas pembelajaran, dan simpul profesionalisme guru dalam berkontribusi secara konstruktif bagi peningkatan kualitas pendidikan secara luas.

Dalam menjalankan tugas profesi pun, aktivitas menulis selalu dilakukan guru. Aktivitas tersebut dimulai dari mempersiapkan silabus, menyusun program tahunan dan semester, menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, saat pelaksanaan proses pembelajaran, serta dalam proses evaluasi.

Namun, problem mulai muncul ketika guru dituntut untuk menyusun karya tulis ilmiah (KTI), dalam bentuk apa pun. Contohnya, penyusunan artikel ilmiah populer, artikel konseptual, esai, artikel hasil penelitian, atau jenis tulisan ilmiah lain. Penyusunan karya tulis ilmiah bagi guru berkaitan dengan pengembangan profesi, aktualisasi diri, dan mendukung kegiatan literasi bermakna. Belum cakapnya guru dalam penyusunan karya ilmiah tergambar pada data Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) yang menyatakan 30,4% guru terhambat kenaikan pangkatnya karena kendala penyusunan dan publikasi karya ilmiah (Sulistiyo, 2014).

Sebenarnya, para guru menyadari benar arti penting aktivitas menulis. Namun, persentase guru yang telah menghasilkan tulisan ilmiah, khususnya bentuk artikel ilmiah populer, masih sangat minim. Itu pun belum dilakukan secara kontinu.

Selain itu, sebenarnya para guru juga memahami teori-teori menulis dengan baik, mengetahui tahapan-tahapan menulis, serta mengerti arti penting aktivitas menulis bagi kebutuhan profesi guru. Namun, keengganan untuk menulis artikel ilmiah populer tetap saja besar.

Literacy shaming

Keengganan tersebut mengarah kepada perilaku literacy-shaming, yaitu merasa tidak mampu menulis meskipun sudah menguasai teori menulis dan memahami berbagai bentuk tulisan (Dewayani dan Retnaningdyah, 2017). Perilaku literacy-shaming akan membawa akibat buruk apabila tidak ada upaya masif untuk meminimalisasi.

Salah satu dampaknya, para guru seolah melegitimasi bahwa tugas profesinya sekadar menjalankan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) dalam proses belajar mengajar. Kemudian, para guru cenderung mengabaikan makna dan tugas guru yang sesungguhnya, yaitu memberi keteladanan, termasuk dalam hal berliterasi.

Terdapat tiga kendala utama yang menyebabkan perilaku literacy-shaming, yaitu kendala kesulitan menemukan ide, kesulitan mengeksekusi ide (no action), dan kesulitan mendapatkan media publikasi. Pertama, kendala kesulitan ide sering dialami para guru, terutama ketika hendak memulai menulis. Sebagian besar guru merasa blank, tidak tahu apa yang akan ditulis, ide dan imajinasi tiba-tiba "mampet". Setelah berlama-lama tanpa arah tujuan tulisan, para guru biasanya kemudian memutuskan berhenti menulis. Produk tulisan ilmiah tersebut akhirnya hanya sebatas angan.

Kedua, kendala sulitnya mengeksekusi ide. Ketika ide atau gagasan sudah muncul, para guru tidak percaya diri untuk memulai menuliskannya. Selain referensi yang dangkal, seringkali para guru mengalami writer block, kondisi ketika aktivitas menulis berhenti karena tidak siap untuk menuliskan ide yang sudah hadir.

Ketiga, kendala berkenaan dengan media publikasi. Beberapa guru pernah mengirimkan artikel populer ke media massa, tetapi tidak dimuat atau dinyatakan tidak layak muat. Setelah beberapa kali mencoba dan gagal, para guru cenderung putus asa.

Bila menilik jumlah kolom atau halaman yang disediakan bagi penulis lepas, memang seleksi pemuatan artikel populer di media massa cetak sangat ketat dengan jumlah kompetitor yang tidak sedikit pula. Keterbatasan media publikasi tersebut kemudian menjadi kendala besar yang memengaruhi semangat para guru untuk menulis artikel populer secara kontinu.

Upaya Meminimalisasi

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved