Ritual Tawur Dhukut: Pesan Perdamaian di Lereng Gunung Lawu Karanganyar
Upacara tersebut dilaksanakan setiap Wuku Dukut dalam istilah penanggalan Jawa tepat pada Selasa Kliwon
Penulis: Agus Iswadi | Editor: muslimah
TRIBUNJATENG.COM, KARANGANYAR - Upacara Dukutan merupakan ritual tradisi yang sudah turun-temurun dilakukan masyarakat Kelurahan Nglurah Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar.
Upacara tersebut dilaksanakan setiap Wuku Dukut dalam istilah penanggalan Jawa tepat pada Selasa Kliwon.
Peserta ritual yang berasal dari masyarakat sekitar berbaris berjajar di sekitar pintu masuk Situs Candi Menggung pada Selasa (26/11/2019) sekira pukul 07.15. Mereka membawa sesaji berupa hasil bumi seperti ketela, jangung dan buah-buahan.
Selang beberapa saat, dengan menaiki anak tangga, hasil bumi yang ditempatkan dalam wadah terbuat dari daun pisang itu dibawa peserta menuju Situs Candi Menggung.
Setelah dilaksanakan doa oleh sesepuh adat, hasil bumi yang telah dilumat dengan cara diremas menggunakan tangan terlebih dahulu kemudian disebar mengelilingi kawasan situs candi.
"Hore, hore, hore," teriak peserta tawur sembari sesekali melempar hasil bumi.
Korling Nglurah, Ismanto Hartono mengatakan, upacara dukutan itu acara turun-temurun dari nenek moyang.
Diceritakannya, warga Nglurah Lor dan Nglurah Kidul dahulu sering terjadi konflik.
"Diadakan ritual Tawur Dhukut ini sebagai simbol kerukunan antar warga," katanya kepada Tribunjateng.com, Selasa (26/11/2019).
Setelah dilakukan ritual tawur Agung di area Situs Candi Menggung, para peserta kemudian melanjutkan serangkaian ritual di lahan kosong yang berada di belakang MI Amal Mulya Nglurah Tawangmangu.
Di lahan tersebut puncak prosesi tawuran dilangsungkan, para peserta saling lempar hasil bumi dan tepung gandum. Tak ayal prosesi yang terlihat anarki itu menjadi daya tarik tersendiri bagi warga setempat maupun luar Kecamatan Tawangmangu.
Uniknya setelah selesai tawuran tidak timbul amarah antara peserta. Justru peserta tertawa lantaran wajah dan sebagian tubuhnya dipenuhi tepung gandum.
Peserta Dhukutan, Bayu Suyatno alias Kliwon mengatakan, setiap kali tradisi Dhukutan, selalu diadakan tawuran. Namun setelah tawuran tidak ada lagi perselisihan atau dendam antar peserta.
"Setelah tawuran akur, jadi tidak ada perselisihan atau dendam. Merajut kerukunan antar warga. Yang digunakan tawuran hasil bumi seperti nasi jagung, buah (pisang)," ungkapnya.
Sementara itu Putri Ayuningsih (22) warga Kecamatan Jumantono menyampaikan baru pertama kali menyaksikan Ritual Tawur Dhukut. Menurutnya ritual ini bisa menjadi daya tarik wisata sejarah di Karanganyar.
"Agak takut, mungkin karena baru pertama kali melihat. Tapi menarik. Melestarikan budaya yang sudah ada turun temurun," ujarnya. (*)