Minggu, 3 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Kisah Getir Raden Ajeng Kardinah dalam Teaterikal Tari di Tegal

Di atas sebuah panggung yang dipenuhi replika surat untuk Mr Abendanon, Raden Ajeng Kardinah menceritakan kisah- kisah hidupnya.

Tayang:
Penulis: Fajar Bahruddin Achmad | Editor: m nur huda
ISTIMEWA
Pentas teaterikal tari berjudul 'Langkah Kardinah' di Tegal, lima pemeran menari membawa karung goni mengilustrasikan adegan RA Kardinah saat diarak oleh gerombolan Kutil mengenakan goni dalam peristiwa Revolusi Tiga Daerah. 

Pentas Langkah Kardinah adaptasi dari buku Kardinah karya Yono Daryono, membuat penonton terkesima.

Sutradara Langkah Kardinah, Gendra Wisnu Buana mengatakan, pentas ini ingin menyampaikan ketragisan RA Kardinah di luar nama besarnya.

Ia sampai diarak dan rakyat mengiranya RA Kardinah adalah antek kolonial.

Padahal menurut Gendra, dia berjasa di Tegal dan masyarakat kala itu mestinya berhutang budi.

"Bayangkan saja, RA Kardinah trauma dan tidak mau kembali ke Tegal. Hingga saat itu, ia dijemput Sumiati Sardjoe, istri Wali Kota Tegal Sardjoe," katanya.

Menurut Gendra, ia ingin generasi melenial di Tegal itu tahu tokoh- tokoh yang menginspirasi.

Tidak sekedar tahu Kardinah itu nama rumah sakit umum di Tegal.

Namun ternyata, ada perjuangan dan kegetiran yang dilalui oleh RA Kardinah.

Mengenai pentas, Gendra memang sengaja mengkolaborasikan antara teater, musik, dan tari.

"Ada sekitar enam adegan, itu sudah berkesinambungan. Sejak dia kecil, remaja, mulai dijodohkan, hingga dia dikecewakan," ungkapnya.

Sementara penulis buku Kardinah Yono Daryono mengatakan, kisah RA Kardinah jika didramakan memang menjadi kisah yang tragis.

Ia sangat berjasa bagi Tegal, namun di usia tuanya justru ia dipermalukan.

RA Kardinah diarak mengenakan goni keliling kota.

"Lalu ia mau dibunuh oleh Kutil. Untung saja ada yang mengatakan, jangan itu Kardinah. Kardinah yang membuat rumah sakit," kata Yono yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Kota Tegal.

Yono menilai, akhir cerita dalam pementasan Langkah Kardinah sudah bagus.

Namun masih harus ada beberapa perbaikan.

Misalnya, alur pementasan yang masih bergantung pada teks.

Menurutnya masih belum ada upaya mendobrak dalam dunia seni pertunjukan.

"Drama itu kan sebagai wilayah otonom. Tidak tergantung pada naskah. Dalam pentas ini, ada kecenderungan masih plek dengan naskah," ungkapnya. (fba)

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved