Liputan Khusus: Obat ODHIV Mahal dan Stok Menipis
Ketersediaan antiretroviral (ARV) di Indonesia memasuki zona merah meskipun obat tersebut krusial bagi orang dengan HIV/AIDS
"Masih lebih baik kalau mengulang dari nol. Kalau nanti jadi resisten, bagaimana," kata Iman soal dampak yang bisa terjadi akibat perawatan HIV terganggu.
Direktur Eksekutif Indonesia AIDS Coalition (IAC) Aditya Wardhana mengatakan stok obat antiretroviral (ARV) yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk menekan virus HIV/AIDS dalam tubuh orang dengan HIV/AIDS (ODHIV/ODHA) sudah menipis.
Aditya mengatakan beberapa obat ARV berada di ambang kekurangan atau dalam kondisi merah.
ODHIV dan ODHA kerap memutar otak untuk mengatasi ketersediaan ARV yang tipis atau bahkan kosong.
Aditya menuturkan banyak ODHIV dan ODHA yang saling pinjam obat di antara mereka. Hal ini dilakukan untuk memastikan mereka tetap berada dalam keadaan sehat.
Aditya Wardhana mengatakan konsumsi ARV dan kondisi sehat berkorelasi dengan stigma dan diskriminasi kepada ODHA. Semakin cepat ODHA diobati, maka stigma dan diskriminasi akan menurun.
"Edukasi dari ODHA sehat ke orang-orang jadi lebih mudah. Segeralah pemerintah sediakan obat yang aman dan memadai," kata Aditya kepada Tribun Network di kantornya, Jakarta, Kamis (28/11).
Untuk membantu memastikan ketersediaan ARV, Indonesia AIDS Coalition membuka sistem pengaduan terbuka melalui laman Facebook ODHA Berhak Sehat.
Jika ada yang mengadukan kekosongan IAC akan membantu melaporkan kepada Kementerian Kesehatan Subdit HIV untuk segera memastikan ketersediannya. Laporan di laman Facebook itu pun menjadi data lapangan. (Tribun Network/yud/the/fia/gen/deo)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ilustrasi-hivaids-terbaru.jpg)