Sabtu, 11 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ali Rif'an: Penyebaran Paham Radikalisme Agama Menghambat Pembangunan SDM

Maraknya penyebaran isu radikalisme (dalam hal ini yang dimaksud ialah ekstremisme beragama) dapat mengganggu fokus pemerintah

Penulis: Mazka Hauzan Naufal | Editor: galih permadi
TRIBUN JATENG/MAZKA HAUZAN NAUFAL
Dialog Publik bertajuk "Literasi Medsos di Kalangan Mahasiswa dan Pemuda sebagai Upaya Deradikalisasi" di Aula Sekolah Tinggi Agama Islam Pati (STAIP), Rabu (4/12/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, PATI - Maraknya penyebaran isu radikalisme (dalam hal ini yang dimaksud ialah ekstremisme beragama) dapat mengganggu fokus pemerintah dalam membangun sumber daya manusia (SDM).

Generasi y (milenial) dan generasi z yang menjadi sasaran pembangunan SDM rentan terpapar radikalisme melalui media sosial (medsos).

Jika tidak memiliki literasi medsos yang baik, mereka akan mudah terpengaruh ideologi radikalisme, sehingga kemajuan bangsa terhambat.

Hal ini diungkapkan Direktur Arus Survei Indonesia, Ali Rif'an, ketika ditemui usai menjadi narasumber dalam acara Dialog Publik bertajuk "Literasi Medsos di Kalangan Mahasiswa dan Pemuda sebagai Upaya Deradikalisasi" di Aula Sekolah Tinggi Agama Islam Pati (STAIP), Rabu (4/12/2019).

Acara ini diprakarsai Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Pati.

"Berdasarkan data dari suatu lembaga konsultan internasional, disebutkan bahwa pada 2030, Indonesia terancam kehilangan 23 juta pekerja. Makanya pemerintah sedang fokus ke sana. Artinya lulusan-lulusan yang ada hari ini dipersiapkan agar menjadi SDM yang mampu menjawab tantangan dunia kerja. Kalau ada isu radikalisme, agenda ini kan bisa terganggu," urainya.

Menurut Rif'an, dari data yang ia ketahui, mayoritas pengakses media sosial, termasuk Youtube, adalah generasi y dan z.

Sedangkan, saat ini ideologi radikalisme banyak disebarkan di medsos.

Tanpa menyebut nama, ia mengatakan, ada beberapa ustaz-ustaz berideologi radikal yang ceramah-ceramahnya populer di berbagai platform medsos.

"Kalau saya sebut nama sensitif. Tapi ada indikasi radikal menurut BNPT yang bisa jadi patokan untuk mengetahui apakah seorang penceramah berpaham radikal," ungkapnya.

Beberapa indikasi yang ia maksud ialah intoleran, fanatik, eksklusif, merasa paling benar sendiri, dan revolusioner.

Revolusioner di sini artinya dia ingin melakukan perubahan melalui penyebaran paham radikalisme.

Menurutnya, pengguna media sosial harus tahu ciri-ciri ini. Termasuk di dunia nyata, ciri-ciri orang berpaham radikal juga perlu diketahui.

Jika ada orang yang merasa benar sendiri, kalau salat tidak mau diimami orang di luar kelompoknya, itu ada indikasi radikal.

"Kemudian tidak mau memakan hasil sembelihan yang bukan dari kelompok mereka, itu juga ada indikasi radikal," paparnya.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved