Omset Usaha Sumiyati Berkurang 2 Bulan Terakhir karena Pasokan Air PDAM Tersendat
Pelaku usaha mikro di wilayah Kelurahan Kalipancur, Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang keluhkan tersendatnya pasokan air bersih dari PDAM.
Penulis: budi susanto | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pelaku usaha mikro di wilayah Kelurahan Kalipancur, Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang keluhkan tersendatnya pasokan air bersih dari PDAM.
Menurut sejumlah pelaku usaha, tak lancarnya distribusi air mempengaruhi laju perekonomian.
Meski sudah berlangsung beberapa bulan terakhir, namun hingga kini belum ada penanganan yang dilakukan.
Tak jarang beberapa pelaku usaha membeli air bersih ke sejumlah depot air minum untuk mencukupi kebutuhan air usahanya.
"Pendapatan kami berkurang selama dua bulan terakhir ini, karena harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air setiap harinya," jelas Sumiyati (54) satu di antara pemilik warung makan di daerah Kelurahan Kalipancur, Kamis (2/1/2020).
• PPP Kabupaten Semarang Mulai Lancarkan Strategi Hadapi Pilkada 2020
• Tindak Pidana di Kebumen Tahun 2019 Turun 21,12 %, tapi Kasus Narkoba Naik dari Tahun Sebelumnya
• 2 Pekan Devi Rasakan Rumah Bergetar, Akibat Pembangunan Perkantoran di Gemah Pedurungan
• Pilus Sebut Persoalan Infrastruktur Perkampungan Banyak Dikeluhkan Warga Kota Semarang
Jika dalam satu hari omset bersih yang didapat Sumiyati mencapai Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu, kini ia harus menyisihkan 25 persen hingga 30 persen untuk membeli air bersih.
"Kalau keperluan warung untuk cuci piring dan minuman.
Mengandalkan air PDAM tidak mungkin cukup karena alirannya sangat kecil, bisa seharian untuk mengisi satu ember," tuturnya.
Dijelaskannya, tagihan air bersih selalu ia bayar tepat waktu, namun pasokan air tak lancar.
"Keluarnya sak crit.
Untuk pelaku usaha seperti saya sangat menyusahkan, apa setiap hari harus membeli air galon padahal kami langganan air dari PDAM," katanya.
Sementara itu, Manager Humas PDAM Tirta Moedal Semarang, Joko Purwanto, menjelaskan, kondisi itu dikarenakan adanya penurunan debit air.
"Wilayah itu mendapatkan pasokan dari sumur dalam di wilayah Gunung Pati dan Boja.
Di mana pasokan air di sumur itu mengalami penurunan debit," ucapnya.
Menurutnya, dalam kondisi normal pasokan air mencapai 160 liter perdetik.