Berita Semarang
Kami Takut Kehilangan Rumah! Ucap Warga Terdampak Pembangunan Tol Semarang-Demak
Diskusi tata ruang bertajuk prospektif pembangunan tol tanggul laut Semarang-Demak terhadap pembangunan wilayah, berlangsung di Unissula
Penulis: Adelia Prihastuti | Editor: galih permadi
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Diskusi tata ruang bertajuk prospektif pembangunan tol tanggul laut Semarang-Demak terhadap pembangunan wilayah, berlangsung di Gedung Fakultas Teknik Unissula, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (25/2/2020).
Dr Nila Karmilah dosen perencanaan wilayah dan kota Unissula menyampaikan perspektif tata ruang yang berpihak kepada masyarakat.
“Saya coba berpihak ke masyarakat. Karena banyak masyarakat yang tidak tahu hakikat pembangunan itu seperti apa, akhirnya mereka hanya jadi objek tata ruang,” ujar Nila.
• Dampak Banjir Jakarta dan Sekitar, Tol Jakarta-Cikampek Tergenang Nyaris 1 Meter, Kendaraan Terjebak
• Saingi Tik Tok, Instagram Sediakan Fitur Reels Video Pendek 15 Detik di Insta Story, Begini Caranya
• Tak Diduga, Pebulutangkis Tontowi Ahmad Akan Pensiun, Mendadak WA Pelatih Richard
• Remaja Klaten Melakukan Seks dengan Jok Motor Berhias Pakaian Dalam Wanita Curian, Digrebek Warga
Menurutnya dalam melakukan pembangunan, tata ruang diperlukan karena penduduk semakin bertambah sehingga diperlukan perencanaan agar bisa terakomodasi di tata ruang.
“Jika tanggul laut tidak akan menyelesaikan masalah rob dan banjir begitu saja.
Kalau kita menyelesaikan pembangunan di hilir sedangkan di hulu terjadi pembangunan besar-besaran jelas tanggul laut bukan solusinya,” imbuhnya.
Dirinya berpendapat proyek yang masuk stategis nasional ini telah menabrak rencana tata ruang wilayah.
Selain itu akan banyak sekali proyek stategis nasional yang akan menabrak rencana tata ruang yang membangun secara berkelanjutan dan harmonis.
“Perlunya perhatian ke nelayan di Tambak Rejo, Tambak Lorok dan lain-lain yang berdampak pada pembangunan.
Ada kepentingan publik disana. Harus memperhatikan kenyamanan, keamanan dan equility,” ungkap Nila.
Sugeng Riyanto, perwakilan masyarakat nelayan juga turut hadir dan memberikan pendapatnya mengenai pembangunan tol tanggul laut.
“Kami sebagai nelayan bertanya-tanya dampak apa yang kami rasakan setelah tol ini setelah di bangun.
Apakah Pemerintah Jawa Tengah akan memikirkan dan membuat solusi untuk kami,” ungkapnya.
Sugeng dan kawan-kawan nelayan lain khawatir dengan pembangunan tol tanggul laut.
Dirinya mencontohkan pembangunan beberapa pelabuhan di Pekalongan dan Kendal yang semula bebas dari banjir sekarang air masuk ke kampung-kampung nelayan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/proyek-tol-semarang-demak-2020.jpg)