Minggu, 3 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Wabah Virus Corona

Dampak Corona Sudah Tampak, Impor dari China Anjlok hingga 51%

Sejak pekan terakhir Januari 2020, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan (Kemenkeu)

Tayang:
TRIBALLEAU CHARLY / AFP
Beberapa orang yang mengenakan pakaian pelindung berjalan dari kapal pesiar Diamond Princess, Senin (10/2/2020). Ada sekira 3.700 orang dikarantina di dalam kapal karena kekhawatiran akan virus corona, di Daikoku Pier Cruise Terminal di Pelabuhan Yokohama pada 10 Februari 2020. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Sejak pekan terakhir Januari 2020, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat penurunan impor dari China.

Direktur Kepabeanan Internasional dan Antar Lembaga DJBC Kemenkeu, Syarif Hidayat mengatakan, sebelumnya pada Desember 2019 sudah terjadi penurunan impor karena pengaruh musiman libur Natal dan Tahun Baru. Kemudian, impor kembali turun pada periode Imlek tahun ini.

Seharusnya, jika dilihat tren setiap tahun usai Imlek terjadi kenaikan impor. Tetapi, hal itu tidak terjadi lantaran perkembangan ekonomi dunia yang saat ini tengah terganggu akibat virus corona.

"Terjadi penurunan itu pada akhir Desember, jelas karena liburan di Desember. Kemudian turun lagi saat Imlek. Seharusnya dua minggu setelah Imlek rebound, tapi sampai sekarang masih menurun.

Isu Virus Corona Potensi Dongkrak Kredit Bermasalah Industri Perbankan

Bunuh & Masukkan Mayat Putrinya ke Gorong-gorong, Budi Rahmat Curhat Perasaannya Kini & Sujud di TKP

Video Heboh Virus Corona, Warung Jahe Rempah Mbah Jo Semarang Makin Laris

Detik-detik Penangkapan Komplotan Pencuri Uang Dana BOS yang Baru Ambil dari Bank, Ini Kronologinya

Kami bisa melihat dampak daripada corona ini sudah kelihatan dengan adanya penurunan impor yang berasal dari China," ujarnya, di Jakarta, Selasa (3/3).

Data DJBC menunjukkan, devisa negara dari kegiatan impor atau nilai impor hingga pekan keempat Februari 2020 mencapai 463 juta dollar AS, turun 51,16 persen dari pekan keempat Januari 2020 mencapai 948 juta dollar AS.

Adapun, jika dilihat berdasarkan jenis barang yang diimpor, impor komputer asal China merupakan produk yang bakal mengalami penurunan paling tajam.

Devisa negara dari impor komputer tercatat sebesar 16,7 juta dollar AS, atau turun 80,14 persen dari pekan terakhir Januari 2020 yang mencapai 84,1 juta dollar AS. Adapun untuk impor mesin hingga akhir Februari 2020, tercatat sebesar 139,7 juta dollar AS, merosot 20,48 persen dari pekan terakhir Januari 2020.

Impor tekstil dari China juga tercatat turun hingga 58 persen, dari posisi sebelumnya 136,1 juta dollar AS di akhir Januari 2020 menjadi 56,8 juta dollar AS pada akhir Februari 2020.

Sedangkan impor telepon atau handphone asal China hanya 92 juta dollar AS per akhir Februari 2020, terkoreksi 5,44 persen dari Januari 2020.

Syarif menyatakan, negara-negara top 5 impor tidak terlalu terpengaruh. Yang terpengaruh hanya impor dari China, karena sebagian besar pekerja dirumahkan sampai 8 Maret, sehingga kegiatan ekonomi China relatif terhenti.

"Customnya pun dirumahkan, tidak bisa keluar karena suspect. Setelah 8 Maret mudah-mudahan rebound, karena pengumuman pemerintah China mulai beraktivitas normal, kecuali kalau ada perubahan," ujarnya.

Kurangi dampak

Adapun, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengaku, diminta Presiden Joko Widodo untuk mengurangi dampak ekonomi dari sisi suplai akibat wabah virus corona.

Menurut dia, wabah itu berdampak besar terhadap pasokan bahan baku dari China yang dibutuhkan industri di Indonesia.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved