Wabah Virus Corona
Presiden AS Donald Trump Diejek Profesor China Soal Wabah Corona
Covid-19 di AS saat ini telah menelan korban jiwa hingga 56.000 orang, terbanyak di dunia.
TRIBUNJATENG.COM, LONDON – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mendapat kecaman di tengah pandemi corona.
Media China, Global Times, mengecam Presiden AS Donald Trump sebagai pemimpin yang menghancurkan demokrasi, kebebasan, dan hak asasi manusia Amerika di tengah pandemi coronavirus.
Covid-19 di AS saat ini telah menelan korban jiwa hingga 56.000 orang, terbanyak di dunia.
• Ketum PSSI Iwan Bule Tak Restui Lanjutkan Kompetisi Liga 1 2020 Tanpa Penonton
• TERBARU! Pembunuhan Pria Wanita di Solo, Hasil Labfor Ada Sianida di Campuran Jus dan Racun Tikus
• Nikita Mirzani Hadiahi Anaknya Mobil Porsche Seharga Rp 6 Miliar
• Inilah Daftar Nama 25 Dokter di Indonesia Meninggal Selama Wabah Corona, PB IDI Bentuk Tim Khusus
Kegagalan itu justru membuat Trump menjatuhkan kesalahan ke China.
Trump akan meminta kompensasi uang 160 biliun dolar AS ke China.
Dua negara bagian AS, Missouri dan Missisippi, juga berniat mengajukan gugatan hukum ke China yang disebut sebagai penyulut wabah global ini.
Ada juga kantor pengacara AS yang ingin mengajukan upaya hukum sama.
"Banyak orang bertanya-tanya bagaimana sistem AS dapat mentolerir orang seperti itu sebagai Presiden," sebut Global Times lewat opini yang ditulis seorang profesor di Beijing. Berita itu dikutip Daily Mail, Selasa (28/4/2020).
Artikel di media yang dikontrol pemerintah Beijing itu secara terbuka menuduh Trump menjungkirbalikkan prinsip Amerika dengan melawan Konsensus Washington, serangkaian gagasan ekonomi pasar bebas yang luas.
"Konsensus Washington sudah mati, suar demokrasi, kebebasan dan hak asasi manusia yang telah lama dipegang AS telah runtuh," lanjut Profesor Wang Wen, dekan di Institut Studi Keuangan Chongyang di Universitas Renmin Cina.
Ia mengutip sejumlah pernyataan AS yang menyebut AS sebagai 'negara gagal'. Berdasar indeks 'negara rapuh' di dunia, faktanya AS masuk daftar negara yang sangat rentan.
Indeks ini diperbarui setiap tahun oleh lembaga think tank Fund for Peace yang berbasis di Washington D.C.
Tahun lalu, AS peringkat 153 dari 178 “negara rapuh”, sebelum Ceko dan setelah Lithuania. Sementara Cina peringkat 88.
Wang Wen mengutip ilmuwan politik Francis Fukuyama pada 2016, dan artikel yang diterbitkan The Atlantic pada Juni, untuk membuktikan mengapa orang Amerika menganggap negara mereka sebagai 'gagal'.
Profesor Wang mengungkapkan solidaritasnya terhadap rakyat Amerika sebelum kemudian menjatuhkan Washington karena 'kebijakan radikal' dan 'stigmatisasi' terhadap China.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/presiden-as-donald-trump-berbicara-selama-pengarahan-harian-gugus-tugas-koronavirus.jpg)