Ngopi Pagi
FOKUS : Kampanye Pilkada (Kok) Nunut Covid
BENCANA wabah virus corona (Covid-19) belum berakhir di Indonesia. Sejak kasus pertama diumumkan pemerintah pada 2 Maret 2020
Penulis: deni setiawan | Editor: Catur waskito Edy
Oleh Deni Setiawan
Wartawan Tribun Jateng
BENCANA wabah virus corona (Covid-19) belum berakhir di Indonesia. Sejak kasus pertama diumumkan pemerintah pada 2 Maret 2020, terus mengalami penambahan hingga saat ini.
Saat ini, Senin (4/5), tercatat ada 11.587 kasus terkonfirmasi positif corona. Bila dirinci, sekira 8.769 masih dalam perawatan, 1.954 sudah sembuh, dan 864 meninggal dunia.
Bagi sebagian pihak, pada Mei ini adalah bulan paling masif penyebaran virus tersebut. Mengapa demikian?
Satu faktornya adalah Hari Raya Idulfitri. Dimana sebuah tradisi masyarakat pulang ke tanah kelahiran atau menjumpai orangtua, sanak saudara di kampung halaman. Ditambah lagi adanya bencana non alam ini.
Presiden Joko Widodo pun akhirnya mengambil kebijakan Larangan Mudik 2020. Tujuan utamanya agar bisa dibendung dan tidak bertambah wilayah berzona merah Covid-19.
Tidak pula terjadi pergeseran secara masif jumlah pasien terinfeksi virus corona. Bagaimanapun juga, siapapun tak ada yang tersadar apakah dirinya tertular atau tidak oleh virus itu.
Berkait kebijakan-kebijakan pemerintah ini, agaknya pula dapat disikapi secara dewasa oleh masyarakat secara lebih luas. Tetapi pula oleh pemerintah jangan justru dimanfaatkan untuk memuluskan kepentingan pribadi.
Terlebih bila dikaitkan dengan sosial kemasyarakatan. Jangan justru dari kebijakan itu ditujukan untuk memberikan keuntungan pribadi.
Di saat menjalankan misi sosial, masih ada tumpangan kepentingan pribadi, dan lebih miris lagi menggunakan fasilitas pemerintah.
Satu contoh kasus yang membuat miris oleh sebagian pihak. Yakni ketika mendapati informasi seperti yang terjadi di Kabupaten Klaten. Bansos Kemensos justru ditumpangi stiker foto calon kepala daerah.
Okelah bila calon tersebut dalam penyediaan bansos melalui dana pribadi atau partai politik (parpol), mungkin tak akan masalah dan dapat dimaklumi.
Yang dikritisi masyarakat dalam kasus tersebut adalah bantuan Pemerintah Pusat, diserahkan melalui Pemkab Klaten, tetapi ditempeli hanya wajah Bupati Klaten Sri Mulyani.
Bagi sebagian orang tentu paham apabila Sri Mulyani adalah salah satu kandidat yang akan ikut dalam perebutan kursi orang nomor satu di Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Klaten Tahun 2020.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/deni-setiawan-1.jpg)