Berita Demak

Warga Tambak Gejoyo Demak Keluhkan Respon Lamban Pemerintah Terkait Kerusakan Jembatan

Warga RT 01 RW 12 Dukuh Tambak Gojoyo, Desa Wedung, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak, terpaksa iuran untuk membangun jembatan kampung yang roboh.

tribun jateng/moch saifudin
Warga berada di jembatan utama Dukuh Tambak Gojoyo Desa Wedung, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak, Minggu (17/5). Jembatan di area tambak ini berlubang dan membahayakan pengguna jalan namun belum diketahui kapan akan diperbaiki. 

TRIBUNJATENG.COM, DEMAK -- Warga RT 01 RW 12 Dukuh Tambak Gojoyo, Desa Wedung, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak, terpaksa iuran untuk membangun jembatan kampung yang roboh.

Mereka merasa diabaikan pemerintah setempat lantaran permohonan bantuan membangun akses utama kampung tersebut tak direspon, apalagi warga tengah kesulitan di tengah wabah corona seperti saat ini.

Jembatan yang roboh tersebut merupakan jembatan kayu yang menghubungkan perkampungan di area tambak atau rumah warga di atas rawa. Selama belum dibangun, warga harus memutar jalan sehingga menambah waktu tempuh.

"Kami sudah ke pemerintah desa, mengusulkan pembangunan jembatan. Sudah tiga kali (mengusulkan). Namun, bambu saja tidak diberikan," ujar Warga Dukuh Tambak Gojoyo, Basiron (55), di rumahnya yang berada persis di samping jembatan, Minggu (17/5).

Menurut Basiron, jembatan kayu tersebut roboh akibat diterjang air pasang laut sekira 10 hari lalu. Di kampung tersebut, ada tiga jembatan utama berupa satu jembatan utama untuk lalu lintas kendaraan dan dua jembatan untuk penyeberangan orang.

Jembatan kayu yang roboh merupakan jembatan penyeberangan orang berukuran 35 x 1,5 meter.

"Jembatan untuk penyeberangan orang sempat roboh dua-duanya, satu bagian barat sudah diperbaiki, satunya di bagian timur belum," jelasnya.

Lantaran tak pernah mendapat perhatian dari pemerintah desa setempat, Basiron mengatakan, warga memilih iuran untuk memperbaiki infrastruktur tersebut.

"Kula mboten ngertos, napa Gojoyo dijarke kenter napa pripun (Saya tidak tahu, apakah Gojoyo memang dibiarkan hanyut/hilang atau bagaimana)," keluh warga pesisir Demak tersebut.

Ketua RT 1 RW 12, Syafa'adi menambahkan, dukuh Gojoyo memiliki delapan RT dengan sekira 500 kepala keluarga (KK). Untuk memperbaiki infrastruktur, sering kali mereka mengandalkan iuran warga.

Saat ini, selain jembatan penyeberangan, jembatan utama masuk dukuh juga rusak. Jalur tersebut dalam kondisi bergelombang dan belum beraspal.

"Sudah tak terhitung jumlahnya warga iuran mandiri. Kalau ada kerusakan, warga pasti iuran. Terkahir, pembangunan jalan yang selesai Maret lalu, setiap KK iuaran Rp 100 ribu," jelasnya.

Basiron menambahkan, kendati tak didengar pemerintah desa, dia bersama warga tetap berniat membangun jembatan roboh agar memudahkan mobilitas warga saat Lebaran. Sementara, mereka menggunakan bambu meski diakui tak bakal berumur panjang.

"Bambu tak kuat lama menahan terjangan air pasang. Kayu saya setahun dua tahun sudah roboh," imbuhnya. (ivo)

Keluarga Mahasiswa Sragen Adakan Baksos di Sejumlah Tempat, bagi-bagi Masker hingga Sembako

DETIK-DETIK! Serangan Brutal KKB Papua Keroyok Briptu Kristian di Pospol, Lalu Ambil AK-47 dan SS1

IHSG Diproyeksikan Menguat Pekan Ini

Jadwal Imsak dan Buka Puasa Hari Ini Tanjung Pinang, Ramadhan Hari ke-25, Senin 18 Mei 2020

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved