Berita Video
Video RMI NU Pati Turuti Arahan Bupati Tunda Pembukaan Ponpes
Ketua RMI NU Pati berujar pihaknya bersedia mematuhi arahan Bupati Pati Haryanto mengenai penundaan pembukaan kembali pondok pesantren.
Penulis: Mazka Hauzan Naufal | Editor: abduh imanulhaq
"Tapi kemudian muncul problem, surat kesehatan (butuh biaya) Rp 285 ribu (per santri) karena yang dari luar daerah harus rapid test."
"Maka, Jumat kemarin sebelum rapat ini kami bertemu bupati, menanyakan kemungkinan apakah Pemkab mampu memfasilitasi."
"Ternyata tidak memungkinkan karena santri sekian (banyaknya)."
"Maka kemudian ada rapat ini,” papar dia.
Ia mengakui, pondok-pondok di Kajen belum memungkinkan untuk menyelenggarakan rapid test mandiri.
“Dalam surat edaran pesantren, sebetulnya sudah ada arahan bagi santri untuk membawa uang Rp 250 ribu sebagai jaminan untuk rapid test."
"Tapi ternyata kemudian beredar (bahwa biayanya) Rp 285 ribu."
"Itu pun di Puskesmas Margoyoso belum ada rapid test."
"Sudah kami tanyakan,” jelas dia.
Liwauddin mengatakan, sejak awal pihaknya memang merencanakan akan benar-benar menyambut datangnya para santri ke pondok apabila Bupati Haryanto selaku Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Pati memberi izin.
“Tapi karena bupati selaku ketua gugus memutuskan menunda, kami menunggu regulasi dari Kemenag,” terang dia.
Ia mengatakan, seandainya pondok-pondok di Kajen kembali buka, antara sepuluh sampai 15 ribu santri dari berbagai daerah akan berdatangan.
Belasan ribu santri tersebut bersekolah di berbagai perguruan yang ada di Kajen, sekira 5.500 di antaranya di Perguruan Islam Mathali’ul Falah.
(Mazka Hauzan Naufal)
TONTON JUGA DAN SUBSCRIBE :