Berita Semarang
Kasus Begal Bokong Goweser Cewek di Semarang, Ini Kata Psikolog
Kasus begal bokong yang kembali mencuat di Kota Semarang disoroti oleh Psikolog Luh Putu Shanti Kusumaningsih, S.Psi, M.Psi.
Penulis: iwan Arifianto | Editor: galih permadi
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kasus begal bokong yang kembali mencuat di Kota Semarang disoroti oleh Psikolog Luh Putu Shanti Kusumaningsih, S.Psi, M.Psi.
Putu menilai, begal bokong merupakan kategori pelecehan seksual.
Penyebab pelaku begal bokong melakukan perbuatan itu dipengaruhi oleh banyak faktor.
• Detik-detik Wakapolres Karanganyar dan Bripda Hanif Diserang: Alhamdulillah Tongkat Penyelamat Saya
• Viral Video Pria Membeli Burung Lalu Dilepaskan di Hadapan Penjualnya, Netizen +62: Calon Suami Saya
• Anggota DPRD Ditangkap Bersama Seorang Wanita di Hotel, Diduga Gelar Pesta Narkoba
• 13 Wilayah di Jawa Tengah yang Bisa Saksikan Gerhana Matahari Cincin 21 Juni 2020
Salah satu penyebabnya terjadi lantaran pelaku pernah mengalami pelecehan seksual di masa lalu.
Kemudian muncul dendam yang akhirnya dilampiaskan dengan melakukan pelecehan seksual ke orang lain.
"Pelaku mungkin dulu pernah menjadi korban pelecehan seksual namun pada waktu itu dia tidak dapat melindungi dirinya dan menimbulkan perasaan tidak nyaman atau trauma sehingga mendorong pelaku untuk melakukan hal serupa pada orang lain," tuturnya kepada Tribunjateng.com, Minggu (21/6/2020).
Faktor lain, ucap Putu, dapat juga didorong oleh faktor kebutuhan seksual yang tidak terpenuhi sehingga pelaku berusaha memenuhi hasratnya dengan melakukan pelecehan seksual.
"Perlu dicatat bahwa faktor-faktor yang mendorong pelaku untuk melakukan hal tersebut motifnya sangat bervariasi sekali, setiap pelaku bisa saja berbeda faktor pencetusnya," katanya.
Untuk mengetahui penyebab pastinya harus melalui pemeriksaan lebih lanjut guna mengetahui alasan utama pelaku melakukan pelecehan.
"Tapi biasanya ada satu faktor dominan yang ada dalam diri pelaku yang menjadi alasan utama pelaku melakukan pelecehan seksual," beber Dosen Psikolog Fakultas Psikologi Unissula Semarang ini.
Putu menyebut pelaku kejahatan seksual begal bokong yang baru saja menimpa seorang pesepeda perempuan di Semarang memang tergolong berani melakukan pelecehan seksual karena terjadi di tempat umum dan si pelaku dapat melaju dengan tenang tanpa rasa bersalah terhadap korban setelah melakukan pelecehan tersebut.
Sementara itu, dari sisi korban diketahui berpenampilan sopan dan telah menutup aurat dengan baik.
Indikasi orang sehat jasmani dan rohani tentu tidak akan pernah terdorong untuk melakukan pelecehan seksual seperti itu pasalnya mengetahui bahwa perilakunya bertentangan dengan norma yang ada.
"Pelaku pelecehan seksual sebaiknya mendapatkan penanganan lebih lanjut," katanya.
Pelaku pelecehan seksual, lanjut Putu, cenderung tidak memikirkan perasaan korbannya. Pelecehan seksual bisa menimpa siapa saja. Tidak ada jaminan pakaian yang tertutup bisa menjamin korban akan aman dari aksi pelecehan, tetapi paling tidak menjaga.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/psikolog-luh-putu-shanti-kusumaningsih-spsi-mpsi3.jpg)