Wabah Virus Corona
Benarkah Indonesia Bakal Jadi Pusat Wabah Corona di Dunia Prediksi Media Asing? Ini Kata Epidemiolog
Penanganan pandemi virus corona di Indonesia mendapatkan kritikan dari sejumlah pihak, salah satunya datang dari media Australia.
TRIBUNJATENG.COM - Penanganan pandemi virus corona di Indonesia mendapatkan kritikan dari sejumlah pihak, salah satunya datang dari media Australia.
Dalam laporan Sydney Morning Herald (SHM) 19 Juni 2020, Indonesia bahkan disebut akan menjadi hotspot atau pusat wabah virus tersebut di dunia.
"The world's next coronavirus hotspot is emerging next door," tulis SHMP.
• Viral Jamur Enoki Impor Korsel Tercemar Bakteri Listeria, Kenali Gejala & Pencegahan Bagi Ibu Hamil
• Tengah Malam, Mamah Muda Nyaris Diperkosa Tetangga Mertua Ngaku Suami : Nanti Saya Kasih Rp 500.000
• Ancaman Ganjar Berhasil Bikin Ribuan Orangtua Siswa Pakai SKD Palsu Cabut Berkas PPDB Jateng 2020
• Syamsuri Ketagihan Jadi Polisi Gadungan, Sekali Ngomong Bisa Dapat Rp 1 Juta
Selain hal di atas, mereka juga mengkritisi tingkat tes Covid-19 di Indonesia yang sangat rendah dan tingkat kematian yang proporsional tinggi.
Indonesia disebut mendekam di peringkat ke-163 dengan hanya melakukan 2.193 tes per 1 juta orang.
Memang bisa jadi hotspot
Lantas bagaimana tanggapan epidemiolog?
Epidemiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Riris Andono Ahmad menilai bahwa Indonesia memang bisa menjadi hotspot virus corona berikutnya di dunia.
"Ya memang bisa (jadi hotspot), bila masyarakat tetap tidak patuh protokol kesehatan, kita akan jadi hotspot di dunia karena penularan meluas," kata Riris saat dihubungi Kompas.com, Kamis (25/6/2020).
Menurutnya, semua kemungkinan itu ada, namun yang menentukan dapat terjadi atau tidak hanyalah kepatuhan dari masyarakat itu sendiri.
Kemudian, lanjut dia, masyarakat juga sekaligus sebagai pemilik risiko apabila nantinya tertular virus corona atau Covid-19.
"Pada akhirnya, pemilik risiko itu setiap individu.
Semua orang akan tertular kalau masing-masing tidak berkontribusi," jelas Riris.
Sebaliknya, apabila pasien yang sebelumnya terinfeksi virus corona bisa sembuh, maka itu adalah buah dari kontribusi.
Penanganan masih jauh dari ideal