Liputan Khusus
Demam Bersepeda Menjamur: Toko Sepeda Kehabisan Stok
Sejak pandemi Covid-19 ini banyak warga suka bersepeda. Di Kota Semarang dan kota-kota lainnya mudah dijumpai pesepeda di jalanan baik pagi siang atau
TRIBUNJATENG, SEMARANG -- Sejak pandemi Covid-19 ini banyak warga suka bersepeda. Di Kota Semarang dan kota-kota lainnya mudah dijumpai pesepeda di jalanan baik pagi siang atau malam.
Ada yang hanya beberapa orang namun ada juga rombongan.
Saking tingginya animo masyarakat untuk bersepeda, sejumlah toko sepeda sampai kehabisan stok bahkan onderdil pun harus dipesan dulu. Konsumen mendadak ramai berdatangan ke toko sepeda. Sebelum pandemi corona, toko sepeda bisa menjual 5-10 unit. Tapi saat ini lebih dari 40 unit laku dalam sehari.
Pantauan Tribun Jateng di Jalan Barito, Bugangan, Semarang Timur ada toko sepeda sedang ramai dikunjungi pembeli. Pengunjung tampak ramai keluar masuk. Di sepanjang bahu jalan yang tak jauh dari toko sepeda ini, juga terlihat kendaraan roda dua dan roda empat berjajar parkir.
Toko sepeda yang bernama Acc Bicycle Shop ini, memiliki beragam jenis sepeda. Mulai dari sepeda lipat, sepeda gunung, sepeda anak, dan sepeda balap ada di tempat ini. Tak hanya sepeda, berbagai aksesoris sepeda juga dijual.
Berada di halaman depan toko sepeda, ada dua orang karyawan yang sedang sibuk merakit sepeda pesanan pembeli. Dari sekian jenis sepeda yang ada, dua pekerja tersebut lebih sering merakit sepeda lipat.
Sama halnya dengan toko sepeda lain, ada beberapa orang yang datang hanya untuk tanya-tanya, membeli sepeda, maupun mencari aksesoris. Tapi yang paling banyak mendapatkan pusat perhatian pengunjung yakni deretan sepeda lipat.
Menurut pemilik toko yang tidak mau disebut namanya, menjelaskan saat ini banyak stok sepeda yang mulai kosong. Hal itu disebabkan oleh suplai dari pabrikan yang tidak seimbang dengan penjualan.
"Akhir-akhir ini permintaan sepeda luar biasa. Apalagi setelah lebaran kemarin. Tapi sekarang kondisinya ya seperti ini. Banyak orang datang, tapi banyak juga yang pulang dengan tangan kosong. Karena memang stok habis," ujar pria paruh baya yang sedang mengenakan masker ini.
Ia menaksir setiap hari ada ratusan orang yang datang ke tokonya. Jenis sepeda yang paling banyak dicari yakni folding bike atau sepeda lipat. Ia menilai sepeda lipat memiliki keistimewaan dari kepraktisannya.
"Sepeda lipat paling banyak dicari orang. Mungkin karena praktis, kalaupun disimpan di rumah tidak memakan tempat. Ringan dan cocok untuk jalanan di kota juga," papar dia.
Selain sepeda lipat, sepeda gunung atau MTB juga mempunyai segmen tersendiri bagi pecintanya. Pengguna sepeda MTB kerap kali beralasan lebih memilih jenis sepeda tersebut, karena melihat kondisi jalanan di Indonesia.
"Kalau MTB itu di jalan apapun bisa. Kalau motor ibarat motor trail lah. Mau jalan berlubang, bergelombang, tanah, aspal, semua bisa," tegasnya.
Pihaknya sangat berharap suplai dari produsen sepeda bisa dipercepat, sehingga tak banyak membuat kecewa konsumennya. Sebab, di toko sepeda manapun yang ada di Kota Semarang juga mengalami nasib yang sama.
"Permintaannya luar biasa. Tapi stok sering kosong. Saya enggak enak sama pembeli yang sudah jauh-jauh datang ke sini. Kalau bisa produsen sepeda segera menambah kapasitasnya," pungkas dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/gowes-dengan-sepeda-lipat-dahon-semarang-kendal-minggu-922020.jpg)