Breaking News:

Erupsi Merapi

Waspada Erupsi Merapi, Warga Selo Boyolali Mulai Giatkan Ronda

"Untuk proses evakuasi dan mitigasi kebencanaan kami juga sudah membuat skema sesuai protokol kesehatan covid-19," katanya

Istimewa
Puncak Gunung Merapi terlihat dari Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali. 

TRIBUNJATENG.COM, BOYOLALI - Menyusul status waspada erupsi Gunung Merapi masyarakat Kabupaten Boyolali yang tinggal di Kawasan Rawan Bencana (KRB) yakni Desa Tlogolele, Jrakah, dan Klakah, Kecamatan Selo dilaporkan mulai menggiatkan kegiatan ronda.

Camat Selo, Kabupaten Boyolali Joko Prihanto mengatakan sesuai hasil pengamatan terakhir pada pos Gunung Merapi di Jrakah oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BP2TKG) aktivitas Gunung Merapi terjadi peningkatan.

"Itu terpengaruh magma sehingga tubuh Merapi berkembang, meski sekarang sudah menurun. Sementara antisipasi warga setempat mulai meningkatkan kegiatan ronda sebagaimana kearifan lokal turun temurun," terangnya saat dihubungi Tribunjateng.com, Kamis (9/7/2020)

Menurut Joko, warga yang tinggal pada tiga wilayah masuk kategori KRB erupsi Gunung Merapi di Kecamatan Selo saat ini berjumlah total 9.612 jiwa.

Tertinggi lanjutnya, berada pada Desa Jrakah sebanyak 5.157 jiwa.

Ia menambahkan, selain mitigasi bencana dengan cara kearifan lokal berupa kegiatan ronda, pada sejumlah titik kemungkinan terdampak paling parah sudah dipasangi alat deteksi gempa.

"Untuk proses evakuasi dan mitigasi kebencanaan kami juga sudah membuat skema sesuai protokol kesehatan covid-19," katanya

Dikatakannya, setiap malam Forkopimda juga turut melakukan patroli rutin memberikan himbauan kepada warga agar selalu waspada. Karena, aktivitas Gunung Merapi sekarang telah meningkat pada level dua.

Pihaknya menyatakan, warga yang tinggal di KRB telah dilarang beraktivitas kecuali kegiatan ronda dengan membuat api unggun didepan rumah.

Selain untuk mengusir hewan, juga penanda status Merapi belum aman.

"Alasan pembuatan api unggun juga karena ada mitos ketika membunyikan kentongan justru lahar dingin mengarah ke sumber bunyi.

Jadi warga memilih dengan penanda api, karena pernah ada desa hilang dihantam lahar dingin," ujarnya (ris)

Penulis: M Nafiul Haris
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved