Ngopi Pagi
FOKUS : Terlena Corona, Lupa Siaga Bencana
Sudah empat bulan lebih bangsa ini bergumul dengan wabah Virus Corona. Sejak Presiden Jokowi mengumumkan kasus pertama pasien positif corona
Oleh Galih Permadi
Wartawan Tribun Jateng
Sudah empat bulan lebih bangsa ini bergumul dengan wabah Virus Corona. Sejak Presiden Jokowi mengumumkan kasus pertama pasien positif corona, 2 Maret 2020, pemerintah sangat fokus dalam penanganan virus asal China itu.
Belum pandemi usai, bangsa ini diingatkan kembali dengan potensi bencana. Selasa (7/7/2020), terjadi rentetan gempa di Pulau Jawa dan Selat Sunda dalam satu hari dengan magnitudo di atas 5.
Gempa tersebut terjadi di tempat yang berbeda dalam rentang pagi sampai siang hari. Gempa pertama yakni terjadi di utara Jepara dengan magnitudo 6.1 pada pukul 05.54, gempa kedua terjadi di selatan Banten dengan magnitudo 5.1 pada pukul 11.44.
Gempa ketiga terjadi di Selatan Garut dengan magnitudo 5.0 pada pukul 12.17 dan gempa terakhir terjadi di selatan Selat Sunda dengan Magnitudo 5.2 pada pukul 13.16.
Meski menurut Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, empat gempa tidak saling terkait, namun menurutnya tetap perlu diwaspadai.
Gempa -gempa tersebut berada pada sumber gempa yang berbeda, kedalaman yang berbeda, dan mekanisme gempa yang berbeda. "Sebenarnya apa yang terjadi di beberapa wilayah gempa tersebut adalah manifestasi pelepasan medan tegangan pada masing-masing sumber gempa. Setiap sumber mengalami akumulasi medan gempa hingga mencapai stress maksimum dan akhirnya melepaskan energi menjadi gempa," ujarnya.
Setiap terjadinya gempa besar, lanjut Rahmat, biasanya didahului dengan rentetan gempa yang disebut dengan gempa pembuka. "Tapi apakah rentetan gempa ini sebagai pertanda akan terjadi gempa besar? Hal ini sulit diprediksi. Akan tetapi patut diwaspadai. Karena dalam ilmu gempa atau seismologi, khususnya pada teori tipe gempa itu ada tipe gempa besar yang kejadiannya diawali dengan gempa pendahuluan atau gempa pembuka," imbuhnya.
Rahmat mengatakan gempa terjadi dalam waktu berdekatan bisa merupakan peristiwa yang kebetulan. Hal itu logis terjadi karena Indonesia berada di daerah dengan sumber gempa sangat aktif dan kompleks.
Setelah rentetan gempa, aktivitas Gunung Merapi mulai meningkat. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta enetapkan status Gunung Merapi pada level II (Waspada).
Merapi mulai menggembung setelah erupsi pada 21 Juni 2020. Kepala BPPTKG Yogyakarta, Hanik Humaida menyampaikan penggembungan di tubuh Gunung Merapi 0,5 sentimeter per hari. “Adanya penggembungan bisa terjadi dua kemungkinan yakni erupsi atau tumbuhnya kubah lava Gunung Merapi,” ujarnya, Kamis (9/7/2020).
Bencana gempa bumi dan erupsi Gunung Merapi tak bisa dianggap sebelah mata. Peristiwa-peristiwa sebelumnya, jumlah korban meninggal akibat bencana tak bisa dibilang sedikit seperti korban meninggal akibat corona.
Gempa Aceh 9,3 SR disusul tsunami pada 2004 mengakibatkan 167 ribu orang meninggal, Gempa Yogyakarta 5,9 SR pada 2006 sebanyak 6.234 orang meninggal, sedangkan erupsi Merapi pada 2010 sebanyak 277 orang meninggal.
Pemerintah seharusnya sudah membaca tanda-tanda tersebut. Sudah saatnya bergerak nggugah warganya untuk selalu waspada memperkecil terjadinya korban jiwa. Karena hanya Tuhan Semesta Alam yang tahu kapan bencana itu datang. Jangan sampai terlena karena corona, lantas lupa siaga bencana. (*)
• Hotline Semarang : Kartu BPJS dari Pemerintah Tidak Aktif
• Siswi Ini Punya 700 Piala, tapi Daftar di SMA Mana pun Tak Diterima
• Nyabu, Anak Wakil Wali Kota Ditangkap Polisi
• Pasien Digotong Warga Pakai Tandu Jatuh ke Sungai saat Jembatan Gantung Putus, Si Pasien Tewas
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/galih-permadi_20180522_075259.jpg)