Berita Purbalingga
Curug Panyatan Purbalingga Tak Pernah Kering Meski Masuk Musim Kemarau
Curug itu terletak dusun Bawahan tepatnya di kaki bukit Panyatan. Oleh masyarakat setempat curug tersebut diberi nama Curug Panyatan.
Penulis: rahdyan trijoko pamungkas | Editor: Daniel Ari Purnomo
TRIBUNJATENG.COM, PURBALINGGA - Desa Gunung Wuled Kecamatan Rembang Kabupaten Purbalingga mempunyai curug yang masih terjaga keasriannya.
Curug itu terletak dusun Bawahan tepatnya di kaki bukit Panyatan. Oleh masyarakat setempat curug tersebut diberi nama Curug Panyatan.
Gemricik air dan udara segar membuat membuat betah berlama-lama di lokasi curug.
• Baru Sehari Kota Solo Dinyatakan Zona Hitam, Hari Ini Pasien Positif Corona Bertambah 7
• Dilatarbelakangi Balas Dendam Sopir, Bus Terjun ke Waduk dan Bunuh 21 Penumpang
• Biaya Rumah Sakit Rp 45 Juta, Rizal Korban Keganasan Gangster Sukun Stress Semarang Butuh Bantuan
• Hasan Dipaksa Kerja Meski Sedang Sakit, Dipukuli dan Tak Diberi Makan Selama Tiga Hari
Ada dua jalur akses untuk menuju Gunung Wuled. Pilihan pertama dari Kota Purbalingga melalui jembatan sungai Klawing terus menuju Kecamatan Kaligondang dan Kecamatan Rembang.
Bila dari arah Kabupaten Pemalang dapat melalui Bobotsari ke arah timur menuju Kecamatan Rembang. Setelah sampai di Kecamatan Rembang terdapat papan petunjuk menuju tempat wisata itu.
Akses curug Panyatan terbilang mudah. Lokasinya dekat dengan pemukian warga.
Pokdarwis Desa Gunung Wuled Dirin Prayoga, mengatakan selain Curug Panyatan di dusun Bawahan juga terdapat destanasi wisata lainnya yakni Puncak Si Barat dan Taman Soedirman. Ketiga tempat wisata tersebut mulai dikelola dan diresmikan menjadi desa wisata Gunung Wuled pada bulan Maret 2016.
"Disahkan menjadi Desa wisata saat kami mengajukan surat keputusan Pokdarwis dan disetujui Dinas Pariwisata Kabupaten Purbalingga bulan Maret 2016," jelasnya, Selasa (14/7/2020).
Menurutnya, sumber air curug Panyatan berasal dari kaki bukit Panyatan. Aliran air tersebut menuju sungai Gintung dan mengalir ke sungai Klawing Kabupaten Purbalingga.
"Karena potensi alam yang bagus, kami melakukan swadaya untuk membuat fasilitas-fasilitas berupa pembuatan jalan, pos tiket, gazebo, dan toilet , " tutur dia.
Dikatakannya, curug Panyatan berbeda dengan curug-curug lainnya. Air di Curug Panyatan tidak pernah kering meski musim kemarau.
"Air tidak pernah kering. Kelebihan lainnya adalah ada buih atau asap yang muncul di air terjun tersebut karena derasnya air di curug ini, " jelasnya.
Berdampak Pendapatan
Pandemi Corona ternyata berpengaruh terhadap kunjungan wisata di tempat tersebut. Hal yang paling dirasakan pendapatan yang menurun.
"Sebelum Covid 19 pendapatan satu destinasi di Curug Panyatan mencapai Rp 2 juta hingga Rp 3 juta. Setelah ada covid 19 kami tutup dan yang paling mengecewakan kami sama sekali tidak mendapat pendapatan, " jelasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/curug-panyatan.jpg)