Kamis, 9 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Kisah Petani Sukses

Kisah Petani Sukses Batang Beralih Profesi Jadi Pengusaha Minyak Serai

Pesanan minyak serai produksi Slamat Riyadi di Kabupaten Batang meningkat drastis. Usaha produksi rumahan di Desa Sodong, Kecamatan Wonotunggal

Tribun Jateng/ Dina Indriani
Slamet saat melakukan proses packaging produk minyak serai miliknya, Kamis (23/7/2020). 

MINYAK SERAI - Slamet saat melakukan proses packaging produk minyak serai buatannya di Kabupaten Batang, Kamis (23/7). (tribunjateng/dina indriani)

Menangkap peluang usaha dan memanfaatkan potensi lokal butuh kejelian. Slamet kembangkan produksi minyak serai di Kabupaten Batang dengan memanfaatkan tanaman serai di sela-sela pepohonan besar.

TRIBUNJATENG.COM -- Pesanan minyak serai produksi Slamat Riyadi di Kabupaten Batang meningkat drastis. Usaha produksi rumahan di Desa Sodong, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang makin maju selama pandemi ini.

Bahkan Slamet kewalahan memenuhi pesanan karena produksi minyak serai masih menggunakan cara tradisional.

Slamet Riyadi memang seorang petani. Dia kemudian beralih jadi pengusaha dengan memanfaatkan tanaman serai menjadi minyak herbal. Dalam seminggu dia mampu memproduksi 7 hingga 10 liter minyak serai untuk memenuhi permintaan.

"Alhamdulillah selama pandemi ini permintaan minyak serai meningkat. Biasanya seminggu hanya 2,5 liter, sekarang ini bisa sampai 10 liter," tuturnya, Kamis (23/7). Minyak serai punya aroma khas wangi hangat pedas.

Dikatakannya, dia sangat menjaga kualitas minyak serai hasil penyulingan murni tanpa ada bahan campuran apapun. "Saya menjaga sekali kualitas tidak ada campuran apapun murni minyak dari tanaman serai," terang Slamet ditemui Tribunjateng.com.

Dengan alat yang masih sederhana dan tradisional, Slamet kewalahan memenuhi permintaan pasar. "Banyak sebenarnya pesanan tapi karena produksinya belum maksimal dan bahan baku juga masih dalam proses tanam jadi ya masih kewalahan," imbuhnya.

Untuk membuat minyak serai, tumpukan daun yang dipanen dimasukkan ke dalam tungku panas.

"Agar kualitas minyak serai baik maka suhu panas harus tetap terjaga, usai direbus hampir satu jam, uap akan muncul dan mengalir melalui pipa besi," jelasnya.

Dalam poses mengalirnya ini juga dilakukan pendinginan dengan air dalam tong. Proses pendinginan dilakukan agar minyak yang keluar dalam keadaan dingin.

Karena masih bercampur dengan uap air, juga dilakukan penyaringan. Meskipun sederhana, namun proses penyulingan membutuhkan ketelitian dan ketrampilan.

Menurutnya, minyak serai sendiri mempunyai 21 manfaat di antaranya adalah untuk minyak pijat, memperbaiki kinerja pencernaan, meredakan nyeri, dan merawat kulit.

"Untuk harga jual minyak ia bandrol mulai Rp 7.500 untuk botol 15 Mililiter, dan Rp 30 Ribu untuk botol berisi 50 Mililiter," pungkasnya.

Diakuinya, pemasaran masih sebatas di kota-kota di Jawa Tengah. "Karena kami masih mengurus izin BPOM. Kami masih pakai alat sederhana," tutur Slamet.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved