PSIS Today
Alasan Panser Biru dan Snex Usulkan PSIS Semarang Berkandang di Yogyakarta
Dua kelompok suporter PSIS Semarang, Panser Biru dan Snex, mendapat undangan sarasehan dari manajemen PSIS Semarang di Rumah Makan Super Penyet, Jalan
Penulis: Franciskus Ariel Setiaputra | Editor: Catur waskito Edy
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Dua kelompok suporter PSIS Semarang, Panser Biru dan Snex, mendapat undangan sarasehan dari manajemen PSIS Semarang di Rumah Makan Super Penyet, Jalan Gajah Mada, Kota Semarang, Sabtu (25/7) lalu.
Dalam acara tersebut, Panser Biru dan Snex mengusulkan agar PSIS tidak bermain di Semarang dalam laga lanjutan Liga 1 2020.
Kedua kelompok suporter itu mengusulkan, PSIS sebaiknya berkandang di Yogyakarta.
Pertimbangan atas usulan tersebut yaitu kekhawatiran terhadap adanya jebolan oknum suporter yang nekat menyaksikan tim kebanggaannya berlaga, jika PSIS menggelar laga kandang di Stadion Citarum, Kota Semarang.
Padahal menurut ketentuan operator kompetisi, Liga 1 akan dijalankan dengan aturan pertandingan tanpa penonton.
Di sisi lain, ada wacana dari PT Liga Indonesia Baru (LIB) dan PSSI yang akan membantu akomodasi klub jika berkandang di Yogyakarta.
"Andai semua pertandingan Liga 1 dilaksanakan di Pulau Jawa dan akomodasi ditanggung PSSI dan PT LIB jika bermain di luar kota, maka kami usul lebih baik main di luar kota karena nanti segala akomodasi menjadi tanggung jawab PSSI," kata Ketua Snex, Edy Purwanto.
Sementara itu, kepada Tribun Jateng, Minggu (26/7) kemarin, Ketua Panitia Pelaksana Pertandingan (Panpel) PSIS Semarang, Danur Rispriyanto mengungkapkan, pihak manajemen akan membawa usulan tersebut dalam manager meeting bersama PT LIB, Senin (27/7) hari ini.
"Mereka (suporter PSIS--Red) menanyakan kesiapan tim, dan memahami situasi yang dihadapi Panpel.
Mereka memahami dan mengusulkan lebih baik PSIS main di Jogja. Itu nanti akan menjadi bahasan kami pada saat manager meeting yang kedua, besok (Senin hari ini--Red)," kata Danur.
Ia mengungkapkan, pada prinsipnya pihak PSIS tetap ingin bermain di Semarang dengan pertimbangan keuangan. Namun jika memang diputuskan bermarkas di Yogyakarta, artinya pihak panitia yang menyiapkan venue pertandingan adalah dari Panpel PSSI, bukan Panpel PSIS.
"Kalau kami sih ingin PSIS tetap main di Semarang. Artinya, dari segi anggaran dari segi apapun kita berhemat. Kalau kiami main di Jogja dengan panpel sendiri, wah, cost-nya akan terlalu tinggi," kata Danur.
Jika PSIS tetap menggunakan Stadion Citarum Semsrang sebagai homebase di Liga 1, Danur mengakui, hal yang masih menjadi kendala adalah perihal perizinan. Saat ini Kota Semarang masih menerapkan status pembatasan kegiatan masyarakat (PKM) sehingga ada kemungkinan PSIS kesulitan mendapatkan izin menggelar pertandingan kandang.
"Nah kemarin kita sampaikan juga, kalau di kota Semarang itu Perwal PKM-nya itu kan 50 orang saja. Padahal pada saat PT Liga memverifikasi Stadion Citarum, mereka menyampaikan orang yang ada dalam stadion itu, kepanitiaan, pemain, keamanan, anak gawang, ofisial tim, dan segala macam minimal 200 orang. Padahal Perwal-ya 50 orang," katanya.
Kemudian, Danur menambahkan catatan terberat yang dibahas dalam sarasehan, yakni informasi mengenai kendala adanya suporter yang tidak terkoordinir, datang sendiri ke stadion. Hal tersebut dikatakan Danur menjadi dasar suporter pada saat sarasehan mengusulkan ke manajemen agar tim berhomebase di Yogyakarta.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/koreografi-suporter-panser-biru-pada-laga-psis-semarang-vs-persipura-jayapura.jpg)