Rabu, 22 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

PSIS Today

Alasan Panser Biru dan Snex Usulkan PSIS Semarang Berkandang di Yogyakarta

Dua kelompok suporter PSIS Semarang, Panser Biru dan Snex, mendapat undangan sarasehan dari manajemen PSIS Semarang di Rumah Makan Super Penyet, Jalan

Tribun Jateng/ Hermawan Handaka
Koreografi suporter Panser Biru pada laga PSIS Semarang vs Persipura Jayapura di Stadion Moch Soebroto, Magelang, Sabtu (1/12/2018). 

"Kemarin saat kami memasang lampu di Stadion Citarum itu, sudah ada suporter yang menggambar titik-titik untuk bisa masuk ke Stadion. 'Sesuk nek pertandingan mencolot kene wae'. Mereka sudah tahu. Teman-teman suporter (saat sarasehan--Red) sendiri yang menyampaikan ke kami. Mereka juga khawatir dan kasihan dengan Panpel," ungkap Danur.

Dia menyebut, jika PSIS akhirnya menggunakan Stadiom Citarum sebagai homebase, pihaknya akan segera mengadakan komunikasi dengan pihak keamanan, Pemkot, dan tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 (GTPP) Kota Semarang.

"Kami akan lakukan pendekatan dengan pihak keamanan, Pemkot, GTPP, kami akan sampaikan bahwa kompetisi akan bergulir. Kami akan memohon untuk diizinkan menggelar kompetisi di Semarang. Kalaupun itu nanti tidak dimungkinkan, harapan kami main di suatu tempat dengan model home tournament," tandas Danur, yang juga anggota DPRD Kota Semarang tersebut. (arl)

Dragan Hargai Keputusan Manajemen PSIS Pilih Citarum

PELATIH PSIS Semarang, Dragan Djukanovic, menghargai keputusan manajemen Mahesa Jenar yang memutuskan Stadion Citarum sebagai lokasi homebase PSIS di Liga 1 nantinya. Stadion berkapasitas 5.000 penonton tersebut baru saja selesai diverivikasi oleh PT Liga Indonesia Baru (LIB), selaku operator kompetisi, Sabtu (25/7) lalu, seusai dilakukan sejumlah perbaikan, termasuk penambahan kapasitas lampu.

Dari sisi teknis, Dragan sebetulnya sangat memahami, para pemainnya masih belum sepenuhnya terbiasa bermain di rumput sintetis, yang merupakan lapangan Stadion Citarum. Ia menyadari, rumput sinetis rentan membuat para atlet cedera. Di kompetisi resmi Indonesia, belum ada lapangan beralaskan rumput sintetis yang dijadikan venue untuk menggelar pertandingan resmi.

"Yang saya khawatirkan cedera karena selalu ada reaksi tersendiri di lapangan yang berbeda," ungkap Dragan.

Namun, di sisi lain, ia harus memaklumi situasi keuangan klub saat ini. Bila kompetisi kembali digelar, klub tidak mendapat pemasukan dari penjualan tiket penonton, yang menjadi pendapatan terbesar tim, sehingga berdampak pada dana operasional tim.

Seperti diketahui, selama Stadion Jatidiri direnovasi, PSIS harus menjadi tim musafir dengan menyewa Stadion Moch Soebroto, Kota Magelang, sebagai tempat untuk menyelenggarakan pertandingan kandang. Biaya untuk bermain di Magelang ini ditaksir lebih banyak menyedot dana, dibandingkan dengan menggelar laga kandang di Semarang.

"Kami memang harus berhemat," katanya.

Lebih lanjut, Dragan menyebut, pada saat berlatih di Semarang jelang kompetisi Liga 1 2020 kembali dilanjutkan, ada dua opsi latihan agar risiko cedera pemain berkurang, yakni mengkombinasikan venue latihan antara di Stadion Citarum yang berumput sintetis dan Lapangan Tela, Banyumanik yang beralaskan rumput alami. "Jika pemain terus berlatih di lapangan sintetis, mereka rentan cedera.

Maka untuk latihan tetap maksimal, kami tetap harus berlatih di lapangan dengan rumput alami," tandasnya. (arl)

Ada Apa Sembilan Pemain PSIS Semarang Temui Manajemen, Ternyata Ini yang Dibahas

Tanggapan Bek PSIS Semarang Setelah TC Timnas U-19 ditunda Sepekan

Respon Panpel Soal Usulan Panser Biru Agar PSIS Bermain di Yogyakarta

OPINI : Membaca Sebuah Politik Dinasti

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved