Breaking News:

KKN Undip

Atasi Sampah Organik Menumpuk, Mahasiswa Undip Perkenalkan Eko Enzim

Sosialisasi dan pelatihan pembuatan eko enzim dilakukan di RW 1, RW 17 dan RW 18 Kelurahan Srondol Wetan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang.

IST
Sosialisasi dan pelatihan pembuatan eko enzim oleh Putri Nur Syarifah di Kelurahan Srondol Wetan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Limbah sampah organik adalah limbah yang selalu dihasilkan oleh setiap rumah.

Pemanfaatan sampah organik seperti sampah buah dan sayur segar masih tergolong minim di lingkungan Kelurahan Srondol Wetan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang.

Pemanfaatan sampah buah dan sayur hanya sebatas membuang sampah tersebut di bawah pohon yang lama kelamaan sampah tersebut akan membentuk kompos.

Hal ini menyebabkan bau busuk akan tersebar dari sampah tersebut dan akan menyebar ke lingkungan sekitar.

Apabila pembuangan maupun pengolahan sampah seperti itu terus berlanjut, hal ini akan mengganggu kegiatan warga sekitar.

Penggunaan komposter (alat pembuat kompos) juga masih sangat kurang dimanfaatkan oleh warga.

Ketidaktahuan warga atas tata cara penggunaan komposter juga menyebabkan alat ini terbengkalai.

Eko enzim (eco enzyme) adalah suatu terobosan yang diambil oleh Putri Nur Syarifah (21), mahasiswa S1-Agribisnis Universitas Diponegoro untuk mengatasi masalah tersebut.

“Eko enzim adalah hasil fermentasi dari sampah organik, molase/gula dan air," kata Putri, Rabu (5/8/2020).

Eko enzim adalah hasil penemuan Dr. Rosukon Poompavong, doktor yang berasal dari Thailand.

Halaman
12
Editor: abduh imanulhaq
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved