Berita Video
Video Urban Farming di Rumah Wakil Wali Kota Semarang
Di tengah pandemi Covid-19, kegiatan di luar rumah dibatasi, saat masa seperti inilah perlu ide-ide kreatif.
Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: abduh imanulhaq
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Berikut ini video urban farming di rumah Wakil Wali Kota Semarang
Di tengah pandemi Covid-19, kegiatan di luar rumah dibatasi. Saat masa seperti inilah, perlu ide-ide kreatif untuk mengusir rasa bosan saat berada di rumah. Berkebun pun menjadi salah satu pilihan kegiatan yang dijalankan beberapa orang untuk mengisi kesibukan.
Meski sebagian besar halaman rumah di perkotaan tidak begitu luas, namun bukan menjadi penghalang untuk berkebun, seperti yang dilakukan Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu.
Sudah tiga bulan wanita yang akrab disapa Ita tersebut menyibukkan diri melakukan kegiatan pertanian perkotaan (urban farming) di kediamannya.
Dia mengungkapkan, ide mengembangkan urban farming berawal dari masa pandemi yang membuat berbagai kegiatan pemerintahan dikurangi terutama saat akhir pekan. Kemudian, ia isi waktu dengan berkebun.
Di sisi lain, sebagai kader partai, dia juga mengikuti instruksi dari ketua umumnya yakni untuk meningkatkan ketahanan pangan keluarga guna mendukung kedaulatan pangan nasional.
Di sisi lain, dia melihat banyak kelompok tani perkotaan di Kota Semarang. Hal itu juga membuat dirinya tergerak untuk mengembangkan urban farming di rumah.
"Ada sekitar 101 kelompok tani perkotaan. Begitu saua datang kesana, melakukan panen saya tergerak. Masa saya bisa memberi arahan tapi saya tidak mempunyai tanaman yang bisa dijadikan salah satu solusi saat pandemi. Kemudian, saya mencoba untuk menanam," papar Ita.
Dalam mengembangkan urban farming, Ita pun tak sembarangan. Dia berkreasi memadukan antara pertanian dan estetika taman. Dia pun menyulap halaman depan dan belakang rumah menjadi kebun yang berisi beragam tanaman baik sayur, buah, tanaman obat, maupun tanaman hias. Ditambah, adanya rumput-rumput yang menyelimuti halaman sehingga kebun milik Wakil Wali Kota Semarang itu sangat cocok untuk bersantai.
"Tujuan saya ingin ada segi estetika. Saya ingin mengombinasikan tanaman sayuran, buah, empon-empon, dan tanaman hias. Contoh tomat, ada tomat buah, sayur, dan ceri. Cabai juga ada rawit, hitam, dan tampar. Sayuran juga banyak," urai Ita.
Tata cara penanamannya pun beragam mulai dari budidaya secara tradisional hingga modern. Ada tanaman yang langsung ditanam di tanah, ditanam di pot, aquaponik, hidroponik, vertikal garden, hingga budidamber atau budidaya ikan dalam ember ditambah tanaman yang tumbuh diatasnya.
Diakui Ita, dalam mengembangkan urban farmingnya tentu tidak langsung sesuai dengan hasil yang diinginkan. Ada beberapa kegagakan-kegagalan kecil yang kemudian menjadi pembelajaran sehingga saat ini ia dapat menciptakan kebun yang memiliki estetika.
"Pastinya ada hal-hal yang tidak sesuai keinginan, sepeti tanaman mati. Itu hal yang wajar," ujarnya.
Dengan dukungan Dinas Pertanian Kota Semarang dan para relawan pertanian, dia berkeinginan untuk membuka rumahnya sebagai tempat berbagi ilmu terkait urban farming seperti cara penyemaian, pembibitan, penanaman, hinga perawatan.
"Kami tercetus membuat tutorial agar bisa berbagi ilmu dengan siapapun yang ingin mencoba urban farming. Kami baru selesai pengaturan, penataan, dan penyiapan modul-modul. Minggu depan Insya Allah sudah bisa," terangnya.