Rabu, 8 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Kesehatan

Andalkan Kopi sebagai Pencahar Alami agar BAB Lancar, Amankah?

Kopi memang merangsang hampir semua bagian tubuh, mulai dari otak, kewaspadaan, sampai saluran cerna.

Istimewa
ilustrasi kopi 

TRIBUNJATENG.COM – Banyak orang beranggapan tak lengkap rasanya jika tidak minum kopi dalam sehari.

Kopi memang merangsang hampir semua bagian tubuh, mulai dari otak, kewaspadaan, sampai saluran cerna.

Soal saluran cerna, kopi memang bisa merangsang aktivitas buang air besar (BAB).

Keluarga Berupaya Merebut Jenazah Corona dari Tangan Tenaga Medis, Bungkus Dibuka Lalu Jasad Diciumi

Liverpool Siapkan Uang Setengah Triliun Lebih untuk Beli Gelandang Klub Degradasi Liga Inggris

Kapolresta Solo Kombes Andy Rifai Kena Pukulan Bertubi Oknum Ormas Saat Evakuasi Korban

Rencana Pulang ke Tegal Bertemu Ibu dan Anak Buyar, Suami Istri Ini Tewas Kecelakaan di Tol Cipali

Menurut penelitian, rata-rata orang akan “ke belakang” sekitar 20 menit setelah menyeruput secangkir kopi.

Kendati begitu, amankah kita mengandalkan kopi sebagai pencahar alami?

Menurut pakar nutrisi dari Cleveland Clinic, Kristin Kirkpatrick, minum kopi dalam jumlah moderat atau sedang tidak berbahaya.

Asalkan kita sudah berusia di atas 18 tahun, ngopi bisa jadi solusi untuk melancarkan BAB.

“Setiap orang memetabolisme kopi secara berbeda.

Jadi kita harus mengenali sendiri batasan tubuh kita,” kata Kirkpatrick soal berapa batasan aman kopi.

Ia menambahkan, orang yang metabolismenya cepat akan mengeluarkan kopi dengan cepat dari sistem.

Sebaliknya dengan orang yang metabolismenya lambat, sehingga asupan kopi bisa meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, bahkan serangan jantung.

Selain minum kopi, seharusnya kita juga mencari penyebab utama terjadinya sembelit atau konstipasi.

“Orang sehat yang sistem pencernaannya normal seharusnya BAB nya lancar.

Jika kita sering susah BAB tanpa bantuan kopi, mungkin karena kurang minum air dua liter setiap hari,” paparnya.

Pola makan kurang serat dan sering mengonsumsi makanan yang diproses atau mengandung gula tinggi juga bisa jadi pemicunya.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved