Berita Semarang

Inilah Sosok Aiptu Broto Polisi Restabes Semarang yang Mendermakan Diri Sebagai Sopir Ambulans

Profesi sebagai anggota Polri bagi Aiptu Broto rupanya tidak membuatnya lupa untuk tetap membantu sesamanya.

Penulis: Rifqi Gozali | Editor: galih permadi

Namun hal itu tidak membuatnya menutup mata untuk tetap melayani masyarakat di luar tugasnya, yakni menjadi sopir ambulans. Terhitung dia menjadi sopir ambulans sejak Maret 2018.

Mulanya sudah ada ambulans dari partai politik untuk melayani warga Jatisari yang sakit atau meninggal. Namun keberadaan ambulans tersebut ada beberapa warga yang menolak diantarkan menggunakan ambulans partai.

“Akhirnya, kami dari Lazis (Lembaga Amil Zakat, Infak, dan sedekah) Masjid Jami Jatisari menyediakan ambulans untuk kebutuhan warga,” ucap lelaki yang juga sebagai pengurus takmir masjid Jami Jatisari.

Sejak ada fasilitas ambulans itulah kemudian Broto mendermakan diri sebagai sopirnya. Tentu aksi sosial yang dia lakukan ini mengaca pada nasib hidupnya di waktu kecil yang lahir dari keluarga kurang mampu.

“Saya ini tidak tega kalau melihat orang kesusahan, soalnya dulu juga susah,” katanya.

Selain jenazah, Broto juga acap kali mengantar orang sakit untuk diantar ke rumah sakit. Baginya, apa yang dilakukan tersebut merupakan perbuatan yang akan terus mengasah kepekaan sosialnya di usianya yang kian menua. Sebab, warga sakit diantarnya ke rumah sakit atau jenazah yang diantar tidak jarang berangkat dari keluarga kurang mampu.

“Pernah juga mengantar orang gila ke rumah sakit jiwa, saya malah diludahi,” katanya berkelakar.

Mengantar jenazah sampai Madura

Dari beberapa kali dia mengantar jenazah tercatat dua kali dia mengantar sampai lintas provinsi. Pertama di Bandung kemudian mengantar jenazah sampai Madura. Kalau di Bandung, dia mengantar jenzah lantaran keluarganya ada di sana.

“Yang paling jauh ya Madura saya mengantarkan jenazah,” ucapnya.

Baginya ini merupakan pengalaman yang berkesan. Bermula dari warga Jatisari asli Madura yang saudaranya meninggal di Semarang.

Keluarga mendiang tidak mampu kalau harus membayar ongkos ambulans sampai sekitar Rp 4,5 juta untuk sampai Madura.

“Saya dihubungi untuk mengantarkan sampai Madura, waktu itu saya sedang tidak sibuk, saya siap gratis,” kata dia.

Memanfaatkan jaringan teman seangkatan waktu pendidikan menjadi anggota Polri, Broto menghubunginya siapa tahu di jalan saat mengantar jenazah ke Pulau Garam ada gangguan.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved