Rabu, 8 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Sabila dan Hasana Tepaksa Pakai SKL Untuk Melamar Kerja

Dua siswa asal Kota Pekalongan tak menerima ijazah saat kelulusan beberapa waktu lalu.

Penulis: budi susanto | Editor: sujarwo
Shutterstock
Ilustrasi ijazah 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dua siswa asal Kota Pekalongan tak menerima ijazah saat kelulusan beberapa waktu lalu.

Hingga kini, dua siswi yang pernah menuntut ilmu di salah satu SMA negeri di Kota Batik itu, terpaksa menggunakan Surat Keterangan Lulus (SKL) untuk melamar pekerja.

Tak dikeluarkannya ijazah oleh pihak sekolah lantaran mereka tak sanggup melunasi uang gedung sekolah.

Sebut saja Sabila (18) satu di antara dua siswi tersebut. Ia mengku karena belum melunasi uang gedung, ijazahnya masih ditahan oleh pihak sekolah.

"Uang gedung yang harus saya bayar Rp 3,5 juta, meski sebagian sudah dibayar pemerintah lewat Kartu Indonesia Pintar (KIP), namun masih kurang Rp 700 ribu. Alhasil ijazah saya tidak boleh diambil oleh pihak sekolah," paparnyanya kepada Tribunjateng.com, melalui sambungan telpon, Selasa (26/8/2020).

Dilanjutkannya, hal tersebut memaksanya harus menggunakan SKL untuk melamar kerja.

"Tapi saat melamar saya selalu ditanya ijazah asli, mau bagaimana lagi hanya punya itu. Sampai sekarang juga belum ada perusahaan yang menerima saya," jelasnya.

Ia menjelaskan, di keluarganya hanya sang ayah yang bekerja dan ibunya hanya di rumah.

"Ayah saya buruh di pabrik batik, sementara ibu di rumah. Di tengah kondisi seperti ini orang tua saya tidak sanggup membayar kekurangan uang gedung," katanya.

Sabila menerangkan, pernah mengajukan keringan uang gedung lewat Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) sejak pertama masuk sekolah, namun tak ditanggapi pihak sekolah.

"Waktu kelas X saya mengajukan keringan uang gedung, karena keluarga saya keberatan dengan nominal yang harus dibayarkan. Namun hingga kini tidak ada tindaklanjutnya," papar siswi yang tinggal di Pekalongan Tinur tersebut.

Sementara itu Hasana yang juga bersekolah di tempat Sabila menuntut ilmu, juga tak bisa mengambil ijazah.

Permasalahan yang dihadapi Hasana sama dengan Sabila, yaitu masih kurang membayar uang gedung.

Kekurangan yang harur dibayar Hasana bahkan lebih besar mencapai Rp 2 juta agar ijazahnya bisa diambil.

Tak hanya itu, ia bahkan terpaksa tak bisa membubuhkan tanda tangan dan cap tiga jari ke ijazahnya.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved