Wakapolri: Operasi Besar-besaran Penggunaan Masker akan Dilakukan

Kondisi ini harus dilaksanakan secara lebih tegas. Makanya kita harus bersama-sama untuk operasi penegakan masker.

Editor: rustam aji
TRIBUN JATENG/RIFQI GOZALI
Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono saat kunjungan kerja di Mapolda Jateng, Kamis (27/8/2020). 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA  - Wakil Kepala Kepolisian RI Komjen Pol Gatot Eddy Pramono meminta seluruhnya elemen penegak hukum bersama-sama menghentikan penyebaran Covid-19 yang terus mengalami trend peningkatan.

"Seluruhnya gerak bersama tidak ada egosentris dan saling berkontribusi melakukan yang terbaik bagi masyarakat bangsa dan negara ini," kata Gatot di Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (10/9).

Wakil Ketua II Tim Pelaksana dari Komite Pencegahan Covid-19 dan Percepatan Ekonomi Nasional ini menyampaikan diperlukan adanya operasi penegakan penggunaan masker yang dilakukan secara bersama-sama oleh penegak hukum.

"Kondisi ini harus dilaksanakan secara lebih tegas. Makanya kita harus bersama-sama untuk operasi penegakan masker. Nanti di situ ada polisi ada TNI ada Satpol PP ada Kejaksaan ada dari hakim yang kita akan lakukan secara masif mulai siang malam hari untuk masyarakat dengan sanksi yang lebih tegas," ucapnya.

Di sisi lain, pihaknya secara bersamaan akan membagikan sebanyak 34 juta masker kepada masyarakat di seluruh Indonesia. Hal itu sekaligus tidak lagi menjadi alasan masyarakat tidak mempunyai masker.

"Total masker secara simbolik akan dibagikan seluruh Indonesia semuanya 34 juta masker. Nanti akan dibagikan secara serentak dan secara bertahap," jelasnya.

Dengan begitu, jenderal bintang tiga ini mengharapkan masker tidak lagi sebagai suatu yang terbebani di masyarakat. Sebaliknya, Gatot mengharapkan masker dapat dijadikan sebagai gaya hidup di tengah pandemi Covid-19.

"Dalam adaptasi kebiasaan baru, bagaimana masker sebagai lifestyle dan gaya hidup sebagai gaya baru kita serta menjadikan protokol covid 19 sebagai perisai kehidupan dari bahaya covid 19," ujarnya.

Operasi masker yustisi kata Gatot, akan dilakukan pagi hingga malam hari. Operasi itu bertujuan untuk lebih mendisiplinkan masyarakat terkait protokol kesehatan.

"Pendisiplinan harus tegas makanya hari ini kita launching Operasi Yustisi penegakkan masker. Disitu ada polisi, TNI, Satpol PP, kejaksaan, hakim itu akan dilakukan pagi, siang, malam untuk masyarakat dengan sanksi yang tegas," ujarnya.

Ia menambahkan, ke depannya setiap anggota Polri akan dibekali masker untuk dibagikan kepada masyarakat guna mendisiplinkan masyarakat dengan protokol kesehatan. “Seluruh anggota Polri akan dibekali masker. Baik untuk dirinya sendiri, maupun untuk masyarakat. Nantinya satu polisi satu masker akan jadi program Polri ” jelasnya.

Terkait operasi yustisi yang akan dilaksanakan, Gatot Eddy menjelaskan, anggota Kepolisian dan TNI dibantu Satpol PP akan memantau terus masyarakat untuk disiplin masker dan tidak berkumpul. Termasuk juga menjaga perkantoran, pasar dan tempat-tempat lainnya.

“Operasi yustisi ini tentu akan kami ketatkan terutama dalam menjaga kesehatan masyarakat. Jadi jangan kaget, nanti akan ada Polisi, TNI dan Satpol PP yang akan menjaga di kantor-kantor. Ini bukan menakuti, tapi untuk melindungi agar penyebaran Covid dapat diatasi bersama-sama,” jelasnya. Tidak itu saja, Gatot Eddy juga mengatakan, pihaknya akan melakukan operasi yustisi secara massif dan juga humanis. Namun jika ada pihak yang sulit untuk diarahkan demi menjaga kesehatannya, TNI, Polri serta Satpol PP tak segan-segan untuk memberi sanksi tegas.

“Kalau tetap bandel dan tidak mau diarahkan, tentu akan kami beri sanksi tegas. Ini demi kebaikan dan kesehatan bersama. Kami tak segan-segan untuk bertindak. Kita ingin Indonesia kembali normal dan masyarakat sehat,” ujarnya.

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan bahwa masalah ketersediaan tempat tidur, ruang isolasi, dan ICU di rumah sakit dapat dikendalikan dengan baik apabila penerapan protokol kesehatan masyarakat berjalan dengan baik pula.  Termasuk ketersediaan tempat tidur RS di DKI yang diprediksi akan penuh pada 17 September mendatang apabila PSBB tidak diperketat.

"Demikian pula manajemen rumah sakit yang ada di DKI Atau daerah-daerah lainnya," kata Wiku.

Meskipun demikian menurut Wiku, monitoring ketersediaan tempat tidur RS penting dilakukan. Sehingga RS tidak penuh, dan pasien Covid-19 masih dapat tertangani dengan baik.

"Apabila sudah mulai meningkat agar segera di redistribusi diarahkan ke fasilitas rumah sakit rujukan lainnya atau khusus untuk Jakarta bisa diarahkan memindahkan pasien dengan kondisi sedang dan ringan ke rumah sakit darurat Wisma Atlet," katanya.(Tribun Network/fik/gle/igm/wly)

Sumber: Tribunnews.com
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved