Dispertan PP Karanganyar Lakukan Vaksinasi di Gondangrejo Guna Antisipasi Anthrax
Petugas Dispertan PP Kabupaten Karanganyar melakukan vaksinasi anthrax pada sapi ternak di wilayah Gondangrejo.
Penulis: Agus Iswadi | Editor: sujarwo
TRIBUNJATENG.COM, KARANGANYAR - Petugas Dinas Pertanian Peternakan dan Perikanan (Dispertan PP) Kabupaten Karanganyar melakukan vaksinasi anthrax pada sapi ternak di wilayah Kecamatan Gondangrejo.
Medik Veteriner Dispertan PP Karanganyar, Faturahman mengatakan, Dispertan PP telah mendapatkan bantuan vaksin sejumlah 1.000 dosis dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jateng. Vaksinasi 1.000 dosis itu akan dilakukan kepada sapi ternak di wilayah Gondangrejo.
Dia menjelaskan, vaksinasi dilakukan di wilayah Gondangrejo lantaran pernah terjadi kasus anthrax di wilayah tersebut pada 2010 lalu.
"Vaksinasi sudah dilakukan minggu lalu. Ini sudah 500 dosis. Targetnya minggu depan sudah selesai. Ini sebagai antisipasi pencegahan terhadap penyebaran anthrax," katanya saat dihubungi Tribunjateng.com, Kamis (24/9/2020).
Populasi sapi di wilayah Karanganyar hingga saat ini terdapat sekitar 63 ribu sapi yang tersebar di beberapa daerah terutama areal pertanian. Seperti Kecamatan Gondangrejo, Jumapolo, Jumantono, Mojogedang, Karangpandan, dan Jenawi.
Petugas Dispertan PP telah melakukan upaya antisipasi penyebaran penyakit anthrax pada sapi dengan melakukan sosialisasi kepada kelompok ternak di wilayah Karanganyar. Baik itu bagaimana langkah pencegahan dan gejala atau tanda yang mudah dikenali ketika sapi terkena penyakit anthrax.
"Pada prinsipnya penyakit itu tidak ada kalau senantiasa menjaga kebersihan sanitasi lingkungan dan kandang. Secara fisik untuk mengetahui tanda atau gejala kalau sapi terkena anthrax itu umumnya mati mendadak. Kemudian keluar darah pada lubang anus, mulut, hidung dan telinga. Itu yang gampang dikenali," terangnya.
Selain itu, sapi yang terkena anthrax dapat dikenali dari daging serta organ limpanya ketika sudah dipotong. Daging sapi yang terkena anthrax, organ limpanya akan berwarna gelap, merah kehitaman dan ukurannya membesar.
"Organ limpanya itu nanti membesar dan merah kehitaman. Juga gampang hancur saat dipegang. Dagingnya ada bau menyengat semacam sulfur karena ada produk gas yang dihasilkan. Itu bisa dideteksi. Kalau daging normal tidak berbau seperti gas itu tadi," jelas Faturahman.
Dia menambahkan, hingga saat ini belum ditemukan adanya daging sapi yang terindikasi penyakit anthrax di wilayah Karanganyar.
"Saat ini aman. belum ditemukan daging sapi terindikasi anthrax," pungkasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/tansper.jpg)