Breaking News:

OPINI

UMKM Jawa Tengah di Pusaran Pandemi

Tujuh bulan berlalu, belum ada tanda-tanda nyata pandemi Covid-19 akan berakhir. Sektor ekonomi bahkan sudah lebih dulu merasakan dampaknya.

UMKM Jawa Tengah di Pusaran Pandemi
TRIBUN JATENG
opini Tribun Jateng Selasa 29/09/2020

Penulis: Wahyu Widodo, Dosen FEB dan SDGs Center Undip

TUJUH bulan berlalu, belum ada tanda-tanda nyata pandemi Covid-19 akan berakhir atau mereda. Sektor ekonomi bahkan sudah lebih dulu merasakan dampak Covid-19 sebelum kasus pertama di Indonesia diumumkan pada awal Maret 2020.

Covid-19 di tingkat global yang menyebar di akhir 2019 telah melumpuhkan aktivitas perdagangan internasional. Akibatnya, bukan hanya ekspor, tetapi pemenuhan kebutuhan bahan baku sebagian industri penggerak utama perekonomian terhambat. Ini jawaban kenapa ekonomi menurun begitu dalam di Kuartal I 2020.

Pandemi memang tidak pandang bulu, kegiatan ekonomi baik produksi maupun permintaan melambat atau bahkan berhenti bersamaan. Sektor usaha di semua level terdampak, hampir semua mengalami kontraksi, tidak peduli skala besar, menengah, kecil dan mikro. Potensi resesi ekonomi meningkat, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah Kuartal II 2020 terkoreksi -5,94%, lebih rendah dari pertumbuhan nasional -5,32%.

Secara spasial, Provinsi Jawa Tengah berada di pusaran utama pandemi Covid-19, menempati posisi ke-3 kasus tertinggi. Tidak banyak pilihan kebijakan dan program yang bisa membalikan keadaan dalam sekejap. Pandemi selalu berdimensi jangka menengah–panjang. Ekonomi dan kesehatan bukanlah dikotomi, harus tetap berjalan bersama dengan porsinya masing-masing. Respon cepat para pemangku kepentingan menjadi kunci utama, setidaknya untuk memberi kepastian dan rasa optimisme ke depan.

UMKM Jateng
Banyak pihak yakin bahwa UMKM adalah solusi jangka pendek untuk menggerakkan perekonomian. Alasannya sederhana, mayoritas usaha berskala mikro, kecil dan menengah. Ketika permintaan dan produksi mengalami stagnasi bersama, diperlukan kekuatan yang mampu menggerakkan ekonomi secara serempak, fleksibel, cepat, bervariasi dan menyebar luas. Untuk itu, UMKM jawabnya.

Jumlah sektor usaha di Jawa Tengah saat ini tercatat mencapai 4,2 juta unit, terdiri dari usaha mikro 3.776.843 (90,48%), kecil 354.884 (8,50%), menengah 39.125 (0,94%) dan besar 3.358 (0,08%). Statistik ini jelas menunjukkan bahwa usaha mikro-lah yang paling dominan, atau usaha dengan kekayaan bersih tidak lebih dari Rp 50 juta dan omset penjualan tahunan maksimal Rp 300 juta, menurut definisi UU 20/2008 tentang UMKM.

Menurut Pemprov Jateng, lebih dari 26 ribu UMKM terdampak Covid-19 dan trennya terus bertambah. Mayoritas bergerak di sektor usaha makanan dan minuman, fashion, perdagangan, jasa dan kerajinan tangan. Menurunnya pendapatan masyarakat dan pembatasan sosial yang diikuti sikap kehati-hatian konsumen menyebabkan permintaan di sektor ini menurun tajam.

Upaya mitigasi telah dilakukan pemerintah daerah melalui stimulus keuangan dan bantuan taktis lain. Meski demikian, bukan berarti di tengah pandemi ini tidak ada lagi ruang bisnis untuk UMKM. Beberapa sektor lain masih bertahan dan bahkan muncul peluang baru, terutama di sektor yang terkait dengan kesehatan dan pendidikan. Dengan fleksibilitasnya, UMKM bisa berganti basis usaha dengan cepat. Dinamika siklus bisnis UMKM terus berkembang ditengah ketidakpastian Covid-19, dan ruang usaha tetap terbuka.

Tantangan
Meski diyakini bisa menjadi solusi, bukan berarti menggerakkan UMKM dapat dilakukan dengan seketika dan tanpa hambatan. Fakta bahwa UMKM adalah usaha yang fleksibel, mudah masuk dan keluar industri, di satu sisi memang menunjukkan keunggulannya, tetapi sekaligus menjadi kelemahannya. Fleksibilitas bisa menghambat kesinambungan usaha dan peningkatan skala ekonomi. Fakta ini menjadi tantangan serius untuk pengembangan UMKM dalam jangka panjang.

Halaman
12
Penulis: -
Editor: moh anhar
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved