Rabu, 6 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Video

Video Kisah Said Aqil Santri Sukses Pengusaha Kapal di Tegal

Suasana mengaji di pondok pesantren masih lekat diingatakan Said Aqil (40), seorang pengusaha kapal di Kota Tegal. Ia ingat betul saat mendapat hukuma

Tayang:

Said mengatakan, setelah pulang dari pondok ia kemudian berbisnis dengan membeli satu kapal ukuran di bawah 30 GT.

Namun tidak berjalan lancar. Kapal bolak-balik ke laut namun tidak membuahkan hasil, justru rugi.

Ia pun saat itu memutuskan untuk menjual kapal dan ikut bekerja sebagai karyawan di usaha kapal milik orangtuanya.

“Posisi saya sangat down. Kapal dijual dan saya ikut kerja di usaha orangtua. Ya saya jadi pengurus di kapal bapak saya. Saya harus merasakan disuruh-suruh ABK, disuruh-suruh nahkoda untuk melengkapi kebutuhan melaut mereka,” ungkapnya.

Said mengatakan, ia kembali merintis usahanya setelah bekerja di usaha orangtuanya selama lima tahun, dari 2005 sampai 2010.

Kemudian pada 2010, ia membeli satu kapal berukuran di bawah 30 GT dengan harga Rp 250 juta.

Ia bersyukur, usaha kapalnya terus meningkat. Saat ini ia memiliki lima kapal berukuran di atas 30 GT dan satu kapal yang masih dipesan.

Said mengatakan, kapalnya melaut dalam jangka waktu dua bulan. Setelah pulang satu kapal mendapatkan ikan sebanyak 30 ton sampai 50 ton.

Kemudian untuk gaji dari bagi hasil yang didapatkan ABK mencapai Rp 7 juta sampai Rp 10 juta. Terkadang jika hasil tangkapan bagus per ABK bisa dapat Rp 10 juta sampai Rp 12 juta.

“Untuk hasil tangkapan cumi diekspor ke luar negeri, China. Dari lima kapal total tangkapan cumi selama dua bulan mencapai 50 ton. Untuk ikan lainnya, seperti tongkol, tengiri, kuniran dan lainnya itu dijual ke lokal,” jelasnya.

Merintis Pondok Pesantren

Selain bergelut di usaha kapal, Said juga sedang merintis pondok pesantren yang berlokasi di Kelurahan Muarareja, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal. Yayasan tersebut diberi nama Pondok Pesantren Asrama Pendidikan Islam Muarareja.

Said mengatakan, pondok pesantren tersebut baru aktif sejak April 2020. Saat ini santrinya baru berjumlah 15 orang.

“Memang baru. Awalnya saya mengusulkan untuk membangun pondok pesantren ke keluarga. Alhamdulillah ibu sangat mendukung,” kata Said yang menjabat sebagai ketua yayasan.

Said mengatakan, ia selalu mengingat pesan dari kiainya, KH Abdurrohman Chudlori. Bahwa santri harus tetap tawadhu, andhap ashor, dan selalu mengaji.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved