Berita Video
Video Kisah Said Aqil Santri Sukses Pengusaha Kapal di Tegal
Suasana mengaji di pondok pesantren masih lekat diingatakan Said Aqil (40), seorang pengusaha kapal di Kota Tegal. Ia ingat betul saat mendapat hukuma
Penulis: Fajar Bahruddin Achmad | Editor: abduh imanulhaq
TRIBUNJATENG.COM, TEGAL – Berikut ini video kisah Said Aqil santri sukses pengusaha kapal di Tegal.
Suasana mengaji di pondok pesantren masih lekat diingatakan Said Aqil (40), seorang pengusaha kapal di Kota Tegal. Ia ingat betul saat mendapat hukuman berdiri di kelas karena tidak lulus dalam setoran rutin bait syair Kitab Alfiyah.
Dia tersenyum bahagia mengingat kenangan tersebut.
Menurutnya waktu untuk setor hafalan menjadi kenangan terindah saat mondok atau nyantri. Karena di momen-momen itu hanya satu yang dirasakan, tegang dan deg-degan.
Kang Said, sapaan akrabnya, adalah santri alumni dari Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo Magelang, Jawa Tengah. Dia adalah warga Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal.
Said seorang santri yang dapat dikategorikan sebagai pengusaha sukses di bidang perkapalan.
Dia mempunyai lima kapal berukuran di atas 30 gross tonage (GT), dengan masing-masing anak buah kapal (ABK) sebanyak 25 orang. Maka dia telah memperkerjakan sekira 125 ABK.
Said mengatakan, pondok pesantren adalah tempat pendidikan yang mengenalkannya dengan jati diri. Ia tidak lupa dengan nilai-nilai agama dan prilaku yang didapat saat mondok.
Said mengatakan, ada satu bait dalam Kitab Alfiyah karangan Syekh Ibnu Malik yang dijadikannya sebagai motivasi.
Lafal bait tersebut berbunyi ‘La aq’udul ‘anil haija’i- Walaw tawalat zumarul a’da’i’.
Artinya 'Aku tidak akan duduk bertopang dagu karna pertempuran, meski menghadapi gelombang musuh yang datang silih berganti.'
"Ini yang sekarang masih saya ingat dan hanya satu bait saja. Di situ, orang itu butuh perjuangan. Di situ dijelaskan agar tidak mundur sejengkalpun. itu sangat memotivasi sekali bagi saya," kata Said yang juga aktif sebagai pengurus PCNU Kota Tegal, kepada tribunjateng.com, Sabtu (17/10/2020).
Said bercerita, ia sudah mengenyam pendidikan pondok pesantren sejak masih kecil.
Pertama di usia SD, ia menjadi santri di Pondok Pesantren Al Falah di Desa Jatirokeh, Kecamatan Songgom, Kabupaten Brebes. Kemudian ia melanjutkan menjadi santri di Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang. Ia menjadi santri di Tegalrejo selama enam tahun, sejak 1993 hingga 1999.
Ia juga sempat menjadi santri di pondok pesantren milik Mbah Mawardi di Bantul, Yogyakarta.