Breaking News:

OPINI

Sumpah Pemuda dan Senjakala Bahasa Ibu

Bahasa daerah yang ada di Indonesia terus berkurang. UNESCO pada 2009 mencatat ada 100 lebih bahasa daerah terancam punah.

TRIBUN JATENG
Opini Tribun Jateng 28 Oktober 2020 

Penulis: Achmad Sultoni, Dosen Bahasa Indonesia di Institut Teknologi Telkom Purwokerto..

JIKAkita mau jujur kekayaan negeri yang dijuluki gemah ripah loh jinawi tidak bisa disamakan dengan negeri mana pun di jagat ini. Ungkapan atau semboyan gemah ripah loh jinawi dari bahasa Jawa tersebut mengandaikan bahwa bangsa Indonesia adalah sebuah negeri yang memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Negeri yang tentram dengan kebudayannya yang subur. Tentu saja pengandaian orang Jawa tersebut bisa diterima sebagai semboyan khas bangsa-bangsa di Nusantara. Jika kita menilik apa saja kekayaan-kekayaan tersebut, tentu tak terbilang. Sebagai contoh apabila kita meninjau kekayaan bahasa kita.

Indonesia menempati posisi kedua sebagai bangsa yang terbanyak jumlah bahasanya setelah negara di sisi timur kita, Papua Nugini. Kurang lebih, Indonesia memiliki 741 bahasa dari berbagai daerah dari Sabang hingga Merauke. Sedangkan Papua Nugini mempunyai bahasa ibu sejumlah 820. Kita patut bersyukur atas anugerah itu. Dan sebagai wujud cara terbaik mengungkapan rasa syukur kita kepada Tuhan YME adalah dengan cara menjaganya. Kita melestarikan dan mengembangkan bahasa-bahasa ibu atau bahasa-bahasa daerah kita agar tidak sampai punah.

Bahasa Ibu Diambang Maut

Setiap tahun beberapa bahasa daerah yang ada di Indonesia terus mengalami penurunan status. UNESCO pada 2009 mencatat kurang lebih 2.500 bahasa di dunia, termasuk lebih dari 100 bahasa daerah di Indonesia terancam punah. Sedangkan sebanyak 200 bahasa telah punah dalam 30 tahun terakhir, dan selebihnya terdapat 607 dalam kondisi tidak aman.

Sementara itu, pada tahun 2011, Badan Bahasa, Kemendikbud melalui hasil pendataan dan pemantauan terhadap bahasa-bahasa daerah di Indonesia telah memberi lampu merah perihal eksistensi bahasa-bahasa daerah. Didapati bahwasanya 90 persen bahasa ibu di Indonesia terancam punah pada akhir abad ke-21. Dari 741 bahasa ibu yang masih eksis, diperkirakan 75 persennya akan mati dan hanya tersisa 10 persen saja.

Penyebab utama mimpi buruk kepunahan bahasa tersebut tidak lain adalah karena telah ditinggalkan oleh para penuturnya. Di luar itu, penyebab kepunahan bahasa dapat ditelusuri antara lain disebabkan penyusutan jumlah penutur, perang, bencana alam yang besar, dan kawin campur antarsuku. Dalam kondisi ini, menurut hemat saya, terdapat satu penyebab kepunahan bahasa yang amat krusial, yakni generasi muda tidak mengenal bahasa daerah mereka sebagai ibu mereka.

Hasil pengamatan saya sebagai seorang yang masih masuk kategori masyarakat desa mendapati fenomena yang luar biasa menyedihkan. Sangat sedikit anak-anak di desa yang menggunakan bahasa ibu mereka. Hampir mayoritas orang-orang tua di desa lebih gigih mengajarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama anak-anak mereka. Otomatis jika mereka besar menjadi asing dan tidak mengenali lagi bahasa ibu mereka sendiri. Padahal saya tahu persis bahasa yang dipakai orang tua mereka adalah bahasa Jawa. Semestinya bahasa Jawalah yang menjadi bahasa ibunya. Bahasa Indonesia kini hampir menjadi bahasa pertama anak-anak desa. Padahal eksistensi suatu bahasa bergantung pada generasi penuturnya. Bahasa ibu dikubur hidup-hidup oleh penutur aslinya sendiri.

Tidak sedikit orang menganggap bahasa ibu kurang penting, kuno, dan terkesan ketinggalan zaman. Di kalangan yang lebih besar lagi tidak kalah memprihatinkan. Bersyukur masih terdapat usia beranjak muda masih dapat menggunakan bahasa ibunya. Tapi lagi-lagi tak lebih semarak dengan para pengguna bahasa Indonesia, tidak sedikit dari mereka lebih senang memakai bahasa Indonesia dalam komunikasi keseharian.

Belum lagi ditambah minat para generasi muda dalam menggandrungi bahasa asing yang kian semarak. Bahasa Indonesia dan bahasa asing dipandang lebih bergengsi ketimbang bahasa daerah. Akhirnya, bahasa daerah tak berdaya sebab tidak mampu bersaing. Bayangkan, jika hal demikian terus bergulir, kepunahan bahasa ibu jelas bukan lagi sebuah mitos.

Halaman
12
Penulis: -
Editor: moh anhar
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved