Breaking News:

OPINI

Sumpah Pemuda dan Senjakala Bahasa Ibu

Bahasa daerah yang ada di Indonesia terus berkurang. UNESCO pada 2009 mencatat ada 100 lebih bahasa daerah terancam punah.

Penulis: - | Editor: moh anhar
TRIBUN JATENG
Opini Tribun Jateng 28 Oktober 2020 

Hal-hal yang menyangkut kurang percaya diri, kurangnya rasa bangga, ketidaktahuan terhadap kosakata-kosakata bahasa ibu sendiri, menjadi faktor internal yang menyebabkan kepunahan bahasa ibu kita. Sementara fenomena keranjingan generasi muda lebih menghargai bahkan nyaman bertutur menggunakan Indonesia dipandang sebagai ancaman kepunahan yang berasal dari eksternal. Hal itu masih ditambah dengan manuver bahasa asing, utamanya bahasa Inggris menjadi penguat ancaman eksternal terhadap bahasa ibu.

Jika kita merefleksikan kenyataan di atas, boleh jadi pertanyaan yang segera muncul yakni bagaimana caranya untuk mempertahankan dan mengembangkan bahasa ibu di era tatanan dunia yang makin global? Tentu ini pertanyaan yang tepat kita ajukan hari ini di saat momentum Hari Sumpah Pemuda ini kembali kita peringati.

Mungkin banyak yang lupa pada peristiwa Sumpah Pemuda di 28 Oktober 1928 butir sumpah ketiga kita ikrarkan adalah “menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia” bukan “menjunjung bahasa yang satu, bahasa Indonesia”. Itu artinya selain mengakui bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, juga kita menghargai bahasa-bahasa daerah kita yang jumlahnya tidak sedikit itu. Momentum peringatan Sumpah Pemuda yang ke-92 tahun ini hendaknya semakin refleksi bagi segenap anak bangsa untuk turut memperhatikan bahasa daerah. Di abad ke-21 ini, di mana dunia melaju cepat, pergaulan lintas budaya tak terbendung orang mudah untuk lupa pada akar budayanya. Salah satunya melupakan bahasa daerah yang penuh kearifan itu.

Peringatan Hari Sumpah pemuda adalah alarm keras bagi bangsa kita yang dianugerahi berlimpah bahasa daerah. Hal ini mengingat senjakala bahasa-bahasa ibu kita benar-benar nyata kita hadapi. Memang selama ini telah banyak upaya yang dilakukan dalam upaya merawat bahasa daerah, tak terkecuali oleh pemerintah melalui badan bahasanya, atau di bangku-bangku sekolah. Tetapi, jauh lebih penting revitalisasi bahasa ibu dimulai dari para generasi penerus bahasa, para anak-anak kita supaya dikenalkan bahasa daerah sejak dini.

Regenerasi Penutur

Mau tidak mau cara yang paling ampuh agar bahasa ibu tidak punah adalah mengupayakan regenerasi penutur. Dua langkah paling strategis yang dapat diupayakan yakni, pertama melalui pengajaran di sekolah dan kedua memasyarakatkan bahasa ibu. Akan tetapi, dari dua upaya tersebut, usaha memasyarakatkan bahasa ibu diperhatikan. Terlebih di lingkungan keluarga.

Tidak jarang para orang tua yang lebih bangga mengajarkan bahasa indonesia dan bahkan bahasa asing kepada anak-anaknya. Hal inilah yang kemudian menyebabkan terhentinya regenerasi di tubuh bahasa ibu. Seorang anak sebagai generasi pelestari bahasa ibu tidak dapat mewariskan ke generasi berikutnya sebab tidak menguasainya. Bahkan parahnya, sama sekali tidak mengenali bahasa ibunya. Kondisi inilah yang menempatkan upaya pelestarian di lingkungan keluarga dipandang penting. Mengingat dari lingkup terkecil tersebut nantinya dilanjutkan ke lingkup yang lebih luas, yakni masyarakat.

Peran orang tua dalam merawat bahasa ibu sangat penting. Ibarat membangun bangunan, orang tua berperan sebagai peletak pondasi bahasa pada anak-anaknya. Orang tua memberi penentuan pemerolehan bahasa pertama seorang anak. Jika saja orang tua memiliki kesadaran untuk menomorsatukan bahasa daerah untuk dikuasai anaknya tentu akan sangat berarti dalam upaya melestarikan bahasa-bahasa ibu. Dengan langkah demikian, rasa bangga dan memiliki bahasa ibu akan terbentuk dengan sendirinya. Kita masyarakatkan bahasa ibu atau bahasa daerah dari orang-orang di sekeliling kita. Semoga, peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun ini lebih menjadi pengingat bagi kita untuk makin bertekad menjaga warisan kebudayaan bangsa yang tiada terkira nilainya. Selamat Hari Sumpah Pemuda! (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved