Berita Semarang

Soegiarno: Kakak Berani Kirim Morse Proklamasi ke Luar Negeri di Kantor Berita yang Dijaga Jepang

R Sugiarin, satu diantara pejuang kemerdekaan asal Semarang yang menyiarkan kemerdekaan hingga ke luar negeri.

Penulis: rahdyan trijoko pamungkas | Editor: sujarwo
Tribun Jateng/Rahdyan Trijoko Pamungkas
Soegiarno ceritakan perjuangan kakaknya R Sugiarin yang bekerja sebagai wartawan Domei mengirimkan morse Proklamasi Kemerdekaan RI. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kemerdekaan merupakan bentuk deklarasi suatu negara bebas dari penjajah.

Indonesia memproklamasikan Kemerdekaan berlangsung di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 pada pukul 10.00 tanggal 17 Agustus 1945.

Namun rupanya pernyataan kemerdekaan itu belum didengar oleh luar negeri.

Lalu siapa yang menyiarkan kemerdekaan Republik Indonesia hingga luar negeri?

Dialah R Sugiarin, satu diantara pejuang kemerdekaan asal Semarang yang menyiarkan kemerdekaan hingga ke luar negeri.

Banyak yang tidak tahu siapa itu sosok pria kelahiran 13/7/1918 dan wafat pada 02/11/1987.

Sugiarin merupakan wartawan di surat kabar Domei (saat ini kantor berita Antara). Dirinya mengirimkan kabar kemerdekaan Indonesia menggunakan  sandi morse di kantor beritanya yang saat itu masih dijaga ketat oleh Jepang.

Sosok Sugiarin masih diingat betul oleh adiknya Soegiarno (92). Meski usianya tidak muda lagi,  dia masih ingat betul bagaimana perjuangan sang kakak menyiarkan kabar kemerdekaan Indonesia ke luar negeri. 

Soegiarno menceritakan  Sugiarin merupakan kakak pertamanya. Sugiarin sekolah di sekolah pelayaran jaman Belanda. 

Awal kariernya, kakaknya bekerja di di surat kabar milik Belanda terbesar di Surabaya.

"Hingga Jepang masuk beliau (Soegirin) bekerja di Domei yang sekarang kantor berita Antara. Saat itu dipimpin oleh Adam Malik," ujar dia saat melakukan bersih makam Soegirin di Tempat Pemakaman Umum Bergota bersama Koramil Semarang Selatan, Senin (9/11/2020).

Saat itu, kata dia, di masa-masa genting sebelum kemerdekaan, Jepang menjanjikan kemerdekaan kepada Indonesia. Namun hal tersebut belum direalisasikan.

"Pada saat itu ada telepon berdering di rumah. Sugiarin berani menyiarkan berita penting untuk Indonesia.  Tidak boleh pergi-pergi hingga akhirnya menerima teks proklamasi kemerdekaan untuk disiarkan ke seluruh dunia," jelasnya.

Menurutnya, untuk menyiarkan berita tersebut di kantor Domei tidaklah mudah. Saat itu kantor berita Domei dijaga ketat tentara dan polisi Jepang.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved