Senin, 18 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Khotbah Jumat

Khotbah Jumat Singkat Kepribadian Umat Islam Indonesia

Berikut materi khotbah jumat singkat dengan tema Kepribadian Umat Islam Indonesia yang ditulis oleh Dr H Mohammad Arja’ Imroni, MAg.

Tayang:
MOSLEMWORLD
Muslim mendengarkan khotbah jumat di dalam masjid 

Pertanyaannya, bagaimana seharusnya karakter kepribadian umat Islam Indonesia yang baik?

Untuk membahas ini tentu tidak cukup waktu dalam satu khutbah jumat saja.

Namun secara singkat dapat dikatakan bahwa, kepribadian umat islam Indonesia mestinya harus memadukan dua karakter kepribadian yaitu keislaman dan keindonesiaan.

Dua karakter keislaman dan keindonesiaan harus menyatu dalam diri umat Islam Indonesia sebagai identitas yang utuh.

Kepribadian keislaman dibentuk oleh nilai-nilai substantive yang diambil dari agama Islam dan kepribadian keindonesiaan dibentuk oleh nilai-nilai yang terkandung dalam falsafah hidup bangsa Indonesia, yakni pancasila.

Dalam konteks ini, Islam tidak perlu dipertentangkan dengan pancasila karena kenyataannya nilai-nilai substantive Islam telah terserap dengan baik dalam rumusan pancasila.

Untuk menjadi orang Islam yang baik, yang taat beragama ternyata juga dalam waktu yang sama bisa menjadi orang Indonesia yang baik, yang pancasilais.

Sayangnya, setelah 75 tahun Indonesia merdeka masih saja ada umat Islam yang menyoal keabsahan pancasila dibenturkan dengan Islam.

Sebagai orang Indonesia yang beragama Islam, tetapi masih memposisikan Islam versus pancasila sebagai sesuatu yang bertentangan, bisa saja disebut sebagai orang yang mengalami split personality (kepribadian yang pecah) belum menyatukan nilai-nilai keislaman dank keindonesiaan.

Hadirin Rahimakumullah.

Untuk menyebut beberapa contoh karakter yang mencerminkan kepribadian umat Islam Indonesia yang kokoh keislaman dan keindonesiaanya adalah sebagai berikut:

Pertama, umat Islam tentu saja harus memiliki keyakinan tauhid yaitu mengesakan Allah SWT yakni menyembah dan menghamba hanya kepada Allah SWT.

Konsekuensi dari prinsip tauhid maka dia tidak menuhankan apapun selain Allah SWT.
Umat Islam Indonesia seharusnya tidak akan pernah memberhalakan harta, pangkat ataupun jabatan.

Menuhankan harta bisa berakibat menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta (dengan mencuri, korupsi dan lainnya).

Demikian pula jika seseorang memberhalakan pangkat atau jabatan.

Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved