Berita Batang
Cita-Cita Windy Tunanetra Batang Menjadi Ahli Agama Pupus: Sekarang Saya Pilih Bermusik Saja
Suara merdu seorang remaja berusia 18 tahun bersautan dengan deru kendaraan di Jalan Pantura Batang.
Penulis: budi susanto | Editor: Daniel Ari Purnomo
TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Suara merdu seorang remaja berusia 18 tahun bersautan dengan deru kendaraan di Jalan Pantura Batang.
Suara tersubut berasal dari lantunan syair yang dinyanyikan oleh Windy Riyanto, dari emperan warung kopi yang berdekatan dengan Jembatan Timbang Subah.
Sembari memainkan ukulele bersenar empat, Windy terus mendendangkan sejumlah lagu.
Meski tak bisa melihat, namun jari-jemari Windy seolah memiliki mata yang secara otomatis memainkan ukulele dan mengiringi ia bernyanyi.
Windy merupakan remaja berkebutuhan khusus yang mengidap surfers eye atau Pterigium, atau penyakit mata yang ditandai dengan tumbuhnya selaput di seluruh bola mata.
Hal itu membuat Windy tak bisa melihat sejak ia dilahirkan oleh Shollikin sang ibu 18 tahun silam.
Keseharian Windy hanya diisi dengan bermusik, mengaji, dan membantu Sholikin menjaga warung.
"Mak ada tamu yang datang," serunya kepada sang ibu yang tengah membersihkan bagian belakang warung saat mendengar langkah orang masuk ke warung, Senin (30/11/2020).
Walaupun memiliki keterbatasan, tapi pemuda yang selalu ceria dan acap kali menyambut pelanggan warung dengan nyanyian itu, pernah menjuarai perlombaan lantunan Al-Quran.
Bahkan di tingkat Kecamatan Subah, ia pernah menjadi juara pertama dalam perlombaan melantunkan ayat suci Al-Quran.
Berawal dari keiinginnya medalami Al-Quran, Windy pernah belajar dan mendalami Al-Quran ke seorang ustad.
Prestasi yang ia raih terakhir kali yaitu menjadi juara kedua, dalam hal melantunkan ayat suci Al-Quran tingkat Kabupaten Batang pada 2016 lalu.
Namun kini ia hanya bisa membantu sang ibu di warung kopi yang mereka tinggali lantaran terkendala biaya.
"Sekarang ya di warung ini, saya sadar kalau saya punya kekurangan dan ibu saya tak punya biaya," katanya.
Karena kekurangan biaya, Windy mengendurkan niat dan cita-citanya untuk menjadi ahli agama.