Breaking News:

Berita Karanganyar

Pemilik Kuda Tunggangan di Grojogan Sewu Tawangmangu Tetap Bertahan di Tengah Pandemi

Pemilik kuda tunggangan yang biasa tawarkan jasa naik kuda di kawasan wisata Grojogan Sewu Tawangmangu tetap bertahan.

Tribun Jateng/Agus Iswadi
Pemilik kuda tunggangan yang biasa mangkal di sekitar pintu utama Grojogan Sewu Tawangmangu Karanganyar, Slamet (95). 

TRIBUNJATENG.COM, KARANGANYAR - Pemilik kuda tunggangan yang biasa menawarkan jasa naik kuda di kawasan wisata Grojogan Sewu Tawangmangu Karanganyar tetap bertahan meski terdampak pandemi virus Covid-19.

Penurunan jumlah pengunjung Grojogan Sewu turut berpengaruh terhadap penghasilan para pemilik kuda tunggangan. Penutupan objek wisata tersebut saat awal pandemi membuat para pemilik kuda tunggangan harus mencari alternatif lain untuk mencukupi kebutuhan ekonomi.

Adapun tarif naik kuda sudah ditentukan oleh Disparpora Karanganyar. Harganya sesuai jarak dan durasi. Untuk ke Grojogan Sewu PP tarifnya Rp 150 ribu, apabila satu jam Rp 200 ribu, satu putaran Rp 50 ribu dan naik dari loket 1 ke Balekambang Rp 30 ribu. 

Pemilik kuda tunggangan, Tofa (25) menggeluti jasa naik kuda sudah hampir empat tahun. Dia biasa mangkal di pintu utama Grojogan Sewu mulai pukul 07.00 pagi saat akhir pekan. Apabila saat hari biasa sekitar pukul 09.00Dia mengatakan, adanya pandemi Covid-19 turut berpengaruh terhadap penurunan jumlah penumpang.

"Penurunan pengunjung di sini turut berpengaruh. Otomatis penumpang berkurang. Kadang orang naik kuda berfikir, dari pada naik kuda mending untuk ekonomi dulu," katanya kepada Tribunjateng.com, Sabtu (12/12/2020).

Tofa mengungkapkan, sebelum adanya pandemi, dia bisa melayani 3-4 kali jasa naik kuda saat hari biasa. Sedangkan saat akhir pekan bisa 5 kali lebih melayani jasa naik kuda. Adanya pandemi ini, terkadang melayani 2-4 kali. Bahkan tidak melayani penumpang pun pernah dialami warga Desa Somokado itu. 

"Terasa (penurunan penumpang) banget. Ya kita cukup-cukupkan. Tergantung kita yang mengelola. Ada sampingan cocok tanam," terang Ayah satu anak itu.

Kendati demikian, Tofa tidak ada kepikiran untuk beralih usaha menawarkan jasa naik kuda. Usaha tersebut sudah turun temurun dari keluarga.

Sementara pemilik kuda tunggangan asal Pancot Kalisoro Slamet, meski usianya sudah 95 tahun, dirinya tetap menawarkan jasa naik kuda di sekitar pintu masuk Grojogan Sewu. Dia menawarkan jasa naik kuda sudah 10 tahun lebih. 

"Kalau penghasilan tidak pasti. Kadang blong (tidak dapat), kadang 2-3 kali. Rejeki sudah ada yang mengatur," ucapnya. (*)

Penulis: Agus Iswadi
Editor: sujarwo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved