Breaking News:

Berita Tegal

Antisipasi Bencana Alam Tahun Ini, Pemkab Tegal Siapkan Anggaran Rp 10 Miliar. 

Dalam rangka mengantisipasi bencana alam, Pemkab Tegal alokasikan dana tak terduga Rp 10 miliar.

Tribun Jateng/Desta Leila Kartika
Kondisik banjir yang menggenangi jalan di Desa Kedungkelor, Kecamatan Warureja, Kabupaten Tegal, beberapa waktu lalu. Banjir terjadi karena intensitas hujan yang tinggi mengakibatkan sungai rambut meluap. 

TRIBUNJATENG.COM, SLAWI - Dalam rangka mengantisipasi terjadinya bencana alam seperti banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung di beberapa wilayah, Pemkab Tegal mengalokasikan dana tak terduga sebesar Rp 10 miliar. 

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tegal, Jaenal Dasmin menjelaskan, anggaran Rp 10 miliar tersebut digunakan untuk Covid-19 dan bencana alam. 

‎Ia pun gencar melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait potensi terjadinya bencana banjir dan longsor,  mengingat intensitas hujan yang mulai meningkat. 

Jaenal tak bosan mengingatkan warga Kabupaten Tegal untuk lebih peka terhadap keadaan lingkungan sekitar, harus waspada terlebih bagi mereka yang tinggal di daerah rawan bencana alam. 

"Saya imbau kepada warga Kabupaten Tegal harus waspada terhadap bencana alam seperti banjir, longsor, dan puting beliung, karena beberapa waktu lalu sudah terjadi. Kami juga sudah mengalokasikan anggaran dana tak terduga sebesar Rp 10 miliar di tahun 2021 untuk Covid-19 dan bencana alam," ungkap Jaenal, pada Tribunjateng.com, Senin (18/1/2021). 

Adapun wilayah yang rawan longsor dan terjadi angin puting beliung, menurut Jainal yaitu meliputi Kecamatan Bumijawa, Bojong, Jatinegara, dan Pangkah. 

‎Sedangkan wilayah yang rawan banjir di antaranya Kecamatan Kramat, Suradadi, Warureja, Pagerbarang, dan Margasari.

Wilayah-wilayah tersebut rawan banjir karena hujan deras dan mengakibatkan luapan sungai, seperti sungai Rambut, Cacaban, dan sungai Gung. 

"Personel dan relawan BPBD disiagakan 24 jam, untuk mengantisipasi terjadinya bencana alam selama puncak musim hujan yang diperkirakan berlangsung pada Januari hingga Februari. Termasuk memantau titik-titik mana saja yang rawan banjir maupun longsor," katanya. 

Jaenal menambahkan, di beberapa wilayah yang rawan longsor dan banjir juga sudah dipasang early warning sistem (EWS) dan alat deteksi curah hujan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

EWS dipasang di daerah rawan longor, sehingga masyarakat apabila mendengar suara peringatan langsung siap menyelamatkan diri.

"Tempatnya sendiri ada di Bojong, Dermasuci Pangkah, dan Bumijawa. Ada lima sampai enam titik yang sudah dipasang EWS," imbuhnya.

Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, upaya yang dilakukan BPBD dalam menangani banjir yang sering terjadi di area sekitar sungai rambut Kecamatan Warureja, pihaknya akan berkoordinasi dengan BPBD Pemalang untuk bersama-sama ke Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi Jateng.

Tujuannya untuk membahas mengenai bagaimana upaya dari provinsi untuk mengatasi normalisasi sungai Rambut dan sungai Brungut.

"Karena Sungai Rambut ini merupakan kewenangan Dinas PSDA Provinsi Jateng, maka kami berencana kesana untuk membahas mengenai normalisasi sungai rambut. Kami tidak sendiri, karena lokasinya yang berbatasan dengan Pemalang sehingga nanti koordinasi dengan BPBD Pemalang juga," tandasnya. (*) 

Penulis: Desta Leila Kartika
Editor: sujarwo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved