Breaking News:

Cerita Mahasiswa UIN Walisongo Menari Sufi di Hadapan Habib Lutfi

Menonton tarian sufi timbul pertanyaan apakah mereka tidak pusing atau mual. Bagaimana bisa bertahan jaga keseimbangan

Editor: iswidodo
tribunjateng/IST
MENARI SUFI - Mahasiswa UIN Walisongo menari sufi di hadapan Habib Lutfi bin Yahya di acara penganugerahan gelar kehormatan Doktor HC di kampus Unnes beberapa waktu lalu. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Menonton tarian sufi timbul pertanyaan apakah mereka tidak pusing atau mual. Bagaimana bisa bertahan jaga keseimbangan padahal tubuh berputar hingga puluhan bahkan ratusan kali. Apa kuncinya?

Adalah Shodikin (21) seorang mahasiswa UIN Walisongo seorang penari sufi yang tinggal di Grobogan. Selain kuliah, dia juga penari sufi profesional, santri dan sekaligus entrepreneur.

Shodikin selaku penari sufi, menerangkan bahwa dirinya pertama kali menekuni tari sufi saat kelas X MAN 1 Grobogan. Setelah lulus sekolah, dia melanjutkan kemampuannya di Pondok Darul Falah Ki Ageng Mbodo Grobogan Jawa Tengah. Di ponpes itu dia diajar langsung oleh santri dari Kyai Muhammad Gufron Mulyadi atau yang biasa dipanggil Gus Mbodo.

Berkat gemblengan Gus Mbodo, Shodikin sudah tampil di banyak tempat. Terutama di majelis shalawat, acara resmi seperti acara reuni universitas, seminar budaya dan lainnya. Hal yang paling mengesankan saat Shodikin tampil di acara penganugerahan gelar Doktor (HC) Habib Lutfi bin Yahya tanggal 9 November 2020 di Unnes.

Acara tersebut dihadiri oleh tamu undangan dari dalam negeri maupun luar negeri, Gubernur Jateng, Seniman Sujiwo Tejo, sejumlah rektor dari berbagai universitas. Bahkan Presiden Jokowi juga hadir secara virtual. "Di sinilah yang membuat saya terkesan, tampil di hadapan Habib Luthi secara langsung, bersama dengan keluarga dan ulama-ulama besar lainnya," terang Shodikin.

Ada tata krama atau adab sebelum mulai menari. Antara lain menghadiahkan bacaan Alfatihah kepada guru-gurunya. Filosofinya tari sufi merupakan tarian cinta. Ketika sedang menari Sufi maka penari membawa cinta kepada Allah SWT dan juga kepada Rasulullah SAW. Penari mencoba menggapai ke tingkat hakiki mendekatkan diri kepada Allah SWT dan RasulNYA.

"Saat melakukan gerakan putaran, penari fokus serta mengucapkan bacaan zikir Allah, Allah, Allah, Allah. Penari mencoba melupakan dunia fokus ke akhirat dan fokus pada kecintaan terhadap Allah dan Rasulullah SAW," terang Shodikin.

Apakah saat menari juga mengalami pusing atau mual? "Iya ketika pertama kali latihan awal pasti akan merasa bingung, mual, pingin muntah bahkan sampai terjatuh," ujar Shodikin. Lama-lama terbiasa menari sufi bisa menikmati.

Tapi begitu sudah bisa, Shodikin belum pernah kecelakaan. Ya hanya saat pertama latihan saja. Setelah bisa menjadi penari Sufi, Shodikin mengajarkan tarian sufi kepada banyak orang. Dia juga mendirikan komunitas tari sufi di sekolah terdahulunya, MAN 1 Grobogan.

Dia juga mendirikan komunitas tari sufi di UIN Walisongo. Namun saat ini komunitas tersebut sedang vakum kegiatan karena pandemi Covid-19. Diterangkannya, untuk bisa mahir menari sufi dibutuhkan minimal satu bulan latihan. Dalam sehari minimal latihan putaran selama lima menit.

Dia berharap budaya tari sufi dilestarikan dan dikembangkan, mendapat perhatian pemerintah melalui even atau acara serta pengajian akbar. Karena tari sufi sebagai salah satu sarana berdakwah.

Nyambi Jualan
Sebagai mahasiswa entrepreneur, selain menari sufi, Shodikin juga jualan. Di Grobogan, dia buka usaha minuman Aom Thai Tea setelah melakukan beberapa kali riset. Dia pinjam dana bank Rp 10 juta untuk modal usaha karena tak ingin membebani orangtua.

Sebagai upaya untuk kemandiriannya, Shodikin rekrut satu karyawan. Namun karena pandemi akhirnya adik kandung menjadi karyawannya. Dia promosikan produk Thai Tea melalui media sosial. Jika ramai pembeli, dalam sebulan ia bisa menghasilkan Rp 3 jutaan. Namun, di musim penghujan jualan agak sepi. "Musim hujan agak sepi karena ini jenis minuman dingin," tutur dia.

Selain sebagai penari sufi, jualan Aom Thai Tea, Shodikin juga berprestasi di kampusnya. Bahkan dia mendapat bea siswa dari Bank Indonesia saat semester tiga. Dia berusaha keras agar tidak membenai orangtuanya. (Meilani Esti Mulya Putri mahasiswa UIN Walisongo magang Jurnalistik di Tribunjateng.com)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved