Breaking News:

Focus

Ora obah ora mamah

Menurutnya, Ora Obah Ora Mamah merupakan ekstrak orang Jawa di dalam memotivasi siapa dari kita yang sedang berikhtiar

Penulis: galih permadi | Editor: muslimah
Tribun Jateng
Galih Permadi 

Ora obah ora mamah

Oleh Wartawan Tribun Jateng : Galih Permadi

“Shhh…hahh,” desahan Deni dibarengi semburan asap rokok kreteknya siang itu. Kenek tukang bangunan itu baru saja meletakkan pantatnya setelah setengah hari membongkar genteng dan memasang plafon sebuah Joglo tempat ia bekerja.

Sesekali kopi panas dicecapnya. “Isih dodolan jentik Den?,” tanya Jarwo, rekan kerjanya, sembari membuka satu per satu lembaran bungkus daun arem-arem isi tempe pedas.

“Isih kang, mulai rame saiki. Apa maneh ta dol e nang facebook,” jawab Deni. “Wah mantep. Dodolan nang medsos dadi luas pasaran e, dadi akeh sing ngerti,” timpal Jarwo.

Ya, Jentik nyamuk yang selama ini dianggap biang masalah malah menjadi berkah sumber rezeki buat Deni. Takaran satu tutup botol air mineral ia jual Rp 5 ribu.

Peternak dan hobbis –sebutan penghobi- ikan cupang menjadi pelanggannya. Jentik nyamuk atau cuk menjadi makanan pokok yang harus disajikan pada ikan cupang. Jentik mengandung banyak protein yang baik untuk pertumbuhan ikan cupang. Pertumbuhan yang pesat akan terjadi pada cupang jika secara rutin diberikan jentik nyamuk.

Tapi, Deni tidak asal menjual jentik nyamuk. Ia memilih jentik yang tidak berupa kepompong lantaran akan cepat berubah menjadi nyamuk. Tak hanya jentik, Deni juga menjual kutu air dan cacing sutra yang ia cari di sekitar desanya. “Biasane tuku Rp 40 ewu nggo 3 minggu, lumayan kang,” kata Deni.

“Kui Lik, dodolan jentik ae iso dadi duit,” kata Jarwo. “Hiii…nggilani. Dodolan kok jentik. Aku yo akeh kae nang omah jentik, tapi kok yo nggilani,” kata Kelik sembari badannya menggidik.

“Jaman saiki kudu kreatif Lik, kudu telaten juga. Ora obah ora mamah,” kata Jarwo.

Ora Obah Ora Mamah, teringat petuah Budayawan asal Kendal, Supriyanto GS atau akrab disapa Prie GS dalam sebuah tayangan di Youtube pada 2018 lalu. Menurutnya, Ora Obah Ora Mamah merupakan ekstrak orang Jawa di dalam memotivasi siapa dari kita yang sedang berikhtiar.

“Obah itu gerak, mamah itu mengunyah. Jadi siapa yang bergerak dia akan mengunyah,” ujarnya.

Prie GS mengatakan ada ikhtiar, ada kemungkinan, dan ada pendapatan yang bisa digunakan untuk keberlangsungan hidup. “Maka tidak ada alasan untuk sebuah pesimisme di dalam hidup ini. Karena hanya dengan gerak orang akan ketemu soal-soal yang men jadi hidup ini terlangsungkan,” ujarnya.

Gerak, menurutnya, tipikal-tipikal sangat sederhana: belum ilmu, belum kekuatan, dan belum kekuasaan. “Jadi apa yang kita dirisaukan di dalam hidup jika rumus-rumus hidup begitu sederhana. Tapi betapa untuk obah kita berat sekali. Penyakit paling tipikal manusia itu kemalasan,” ujarnya.

Menurutnya, kemalasan bisa merusak segalanya. “Apa yang tidak rusak dengan kemalasan? Produktivitas rusak, inisaitif jadi rusak, ilmu jadi rusak, etos jadi rusak. Ilmu rusak gerakan apapun mubasir, produktivitas tanpa ilmu mubasir. Apalagi etos. Sudah tidak berilmu, tidak punya etos selesai!,” ujarnya.

Obrolan Ora Obah Ora Mamah Deni Cs seakan menjadi kebetulan mengingatkan saya kepada Prie GS. Itu menjadi salah satu pesan hidup yang saya dengar dari Prie GS. Namun kini, Prie GS sudah “Ora obah ora mamah” lagi. Beliau meninggal dunia Jumat (12/2/2021). Sugeng tindak. Jenengan tiyang sae. Insya Allah Husnul Khatimah.Amin.(*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved