Berita Pendidikan

Dirjen Diksi Dorong Perguruan Tinggi Vokasi Mampu Menjawab Tantangan Upgrade D-3

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi (Ditjen Diksi) telah mengeluarkan kebijakan baru.

Penulis: m zaenal arifin | Editor: rival al manaf
GOOGLE
Ilustrasi Kuliah 

Setidaknya, Wikan berkeinginan ada 50% mahasiswa D-4 masa depan yang berprestasi dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), olahraga, seni, dan debat.

"Mahasiswa jangan hanya mengejar indeks prestasi kumulatif (IPK). Kita ingin menciptakan pemimpin masa depan, dan ini butuh mahasiswa yang kritis dan kreatif," harapnya.

Selanjutnya, kepada para pimpinan PTV agar tidak hanya berfokus pada kompetisi keterampilan teknis (hard skills) saja. Namun, pada aspek kognitif dan keterampilan nonteknis (soft skills) mahasiswa, sehingga mereka memiliki kemampuan yang memang dibutuhkan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

"Mindset hanya hard skills mohon ditinggalkan. Kita sudah ketinggalan zaman, kita terkotak di masa lalu, bahwa vokasi bikin tukang itu salah. Vokasi bikin pemimpin, kreator, inovator. Kita menghasilkan ahli dengan level tinggi, desainer yang solutif di dunia nyata. Makanya, nanti kurikulum semester satu di D-4 itu benar-benar penguatan soft skills dan hard skills yang seimbang," tuturnya. 

Ketua Forum Direktur Politeknik Negeri se-Indonesia (FDPNI), Zainal Arief menyampaikan masalah yang ditemukan pada keterserapan lulusan ada dua yaitu pengangguran terstruktur dan pengangguran gesekan.

"Pengangguran terstruktur adalah keadaan di mana lapangan kerja yang tersedia terbatas dan ada pencari kerja yang belum mendapatkan kerja. Solusinya adalah dengan menambah investasi dan menciptakan lapangan kerja baru," kata Zainal.

Menurut Zainal, yang menantang transformasi pendidikan vokasi adalah pengangguran gesekan, yaitu adanya ketidaksesuaian antara kualifikasi pencari kerja yang tersedia dengan lapangan kerja yang ada. Kualifikasi pencari kerja tidak sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja.

"Ini dapat diatasi dengan penyelarasan pendidikan dengan dunia kerja," ucapnya.

Zainal berharap, program ini dapat berjalan dengan baik. Untuk lulusan kampus vokasi yang belum terserap optimal dalam pasar kerja maka peran transformasi pendidikan vokasi adalah menutup ketimpangan (closing the gap) dari politeknik dengan industri lewat penguatan hubungan dengan DUDI.

"Itu agar talenta kita sejalan dengan kebutuhan industri," pungkas Zainal. (Nal)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved