Breaking News
Senin, 27 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Kudus

Bermodal Listrik Rp 100 Ribu, Peternak Ayam Kalkun Raup Omzet Rp 5 Juta per Bulan

Fauzi merupakan peternak yang khusus menyediakan anak ayam kalkun berusia satu hingga dua minggu untuk dipasarkan kepada konsumen

Penulis: raka f pujangga | Editor: muslimah
TribunJateng.com/Raka F Pujangga
Fauzi Mahfud‎ (51), anggota Komunitas Kalkun Kudus (K3), warga RT 1 RW 4, Desa Undaan Kidul, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus‎, mengandalkan inkubator listrik untuk membantu penetasan telur. 

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS - Listrik menjadi kebutuhan primer bagi peternak kalkun di Kabupaten Kudus.

Satu di antaranya Fauzi Mahfud‎ (51), anggota Komunitas Kalkun Kudus (K3), warga RT 1 RW 4, Desa Undaan Kidul, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus‎.

Fauzi merupakan peternak yang khusus menyediakan anak ayam kalkun berusia satu hingga dua minggu untuk dipasarkan kepada konsumen.

Melalui proses inkubasi buatan, Fauzan bisa meningkatkan nilai jual telur yang semula harganya Rp 10 ribu per butir bisa menjadi Rp 25 ribu per ekor.

Fauzi Mahfud? (51), anggota Komunitas Kalkun Kudus (K3), warga RT 1 RW 4, Desa Undaan Kidul, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus?, mengandalkan inkubator listrik untuk membantu penetasan telur.
Fauzi Mahfud? (51), anggota Komunitas Kalkun Kudus (K3), warga RT 1 RW 4, Desa Undaan Kidul, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus?, mengandalkan inkubator listrik untuk membantu penetasan telur. (TribunJateng.com/Raka F Pujangga)

"‎Telur dimasukkan selama 24 hari ke dalam inkubator buatan sendiri yang bahannya dari kotak kayu, diberi lampu bohlam dan pakai listrik PLN," jelas dia.

Fauzi mengandalkan listrik PLN yang menyala 24 jam untuk bisa menetaskan telur ayam kalkun.

Tanpa bantuan inkubator bertenaga listrik itu, Fauzi kesulitan menetaskan 200 telur per bulan yang dihasilkan dari peternakan sederhananya di belakang rumah.

"Kalau pakai alat inkubator ini ‎kemungkinan menetasnya sampai 90 persen. Tanpa inkubator, prosentase gagalnya sampai 50 persen," jelas dia.

Dengan begitu, dia bisa menekan 40 persen penetasan telur ayam kalkun setiap bulannya menggunakan metode pemanasan buatan bertenaga listrik.

Apalagi biaya yang dikelua‎rkan untuk energi listrik itu tidak terlalu tinggi hanya Rp 100 ribu per bulan.

Diketahui saat membayar tagihan istrik yang semula Rp 150 ribu per bulan beban tagihannya hanya naik menjadi Rp 250 ribu per bulan.

"Sebelum ada ternak ayam kalkun ini saya mengeluarkan uang untuk bayar listrik Rp 150 ribu. Sekarang hanya bayar Rp 250 ribu per bulan, jadi modalnya cuma Rp 100 ribu," jelas dia.

Hanya bermodalkan listrik Rp 100 ribu, Fauzi mampu meraup keuntungan ‎Rp 5 juta sampai 7 juta per bulan.

Jumlah itu dihitung dari estimasi harga ayam kalkun usia satu minggu dan dua minggu yang dibanderol Rp 25 ribu sampai Rp 35 ribu per ekornya.

Setiap bulannya, dia mampu menetaskan sedikitnya 200 ekor ayam kalkun yang siap dijual.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved