Penanganan Corona
Warga Karanganyar Positif Corona Teriak Kelaparan, Tidak Boleh Keluar Rumah Cari Makan
Warga Karanganyar yang positif corona berteriak kelaparan tidak boleh keluar rumah harus isolasi mandiri.
Penulis: Agus Iswadi | Editor: Daniel Ari Purnomo
Penulis: Agus Iswadi
TRIBUNJATENG.COM, KARANGANYAR - Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Karanganyar mendapatkan keluhan dari masyarakat yang merasa kesulitan mencari makan saat menjalani isolasi mandiri.
Berdasarkan data yang dihimpun Tribunjateng.com per Minggu (28/2/2021), penyebaran kasus Covid-19 didominasi oleh kluster kontak erat.
Tercatat ada sebanyak 15 kluster keluarga yang tersebar di 10 kecamatan.
Sekretaris DKK Karanganyar, Purwati menyampaikan, butuh kerja sama dari semua pihak baik itu Satgas tingkat desa, kecamatan hingga kabupaten untuk menekan angka penyebaran virus Covid-19.
Mengingat dinas mendapatkan keluhan dari warga yang mengaku kesulitan menjalani isolasi mandiri karena harus keluar untuk mencari makan.
"Saya mohon kerja samanya. Bagaimana pasien positif itu betul-betul isolasi mandiri. Banyak keluhan ke kami rata-rata, bagaimana mau isolasi, tidak bisa makan. Saya harus keluar cari makan," katanya kepada Tribunjateng.com, Selasa (2/3/2021).
Menurutnya, penyebaran Covid-19 dapat ditekan apabila Satgas dapat bekerja sama dan pasien positif dapat dipantau supaya benar-benar menjalani isolasi mandiri.
Terpisah, Kades Karangbangun Kecamatan Matesih, Karno mengungkapkan, memang sudah ada ketentuan atau aturan baru terkait anggaran yang dialokasikan untuk penanganan Covid-19.
Anggaran tersebut bersumber dari Dana Desa (DD) 2021.
Bantuan sembako untuk warga juga sudah dilakukan pada tahun lalu.
Namun sampai saat ini anggaran tersebut belum cair.
Sehingga pihak desa terpaksa meminjam uang untuk mengalokasikan anggaran penanganan Covid-19 seperti penyemprotan desinfektan, bantuan sembako.
"Dana Desa belum cair, jadi pinjam uang lelang sementara. Dapat Rp 80 juta, itu dijalankan dulu. Nanti diganti kalau sudah cair (DD). Alokasi 8 persen dari DD sekitar Rp 80 juta. Itu untuk penanganan Covid-19, baik buat beli masker, desinfektan, hand sanitizer, dan bantuan sembako. Dalam kurun waktu satu tahun," ucapnya.
Dia menjelaskan, sebelumnya Desa Karangbangun masuk zona merah lantaran ada 13 orang yang terkonfirmasi dan harus menjalani isolasi mandiri.
Namun saat ini mereka telah selesai menjalani isolasi.
"Sudah ada surat dari puskesmas, sekarang sudah tidak ada yang isoman," jelasnya.
Sementara itu Kepala Dinas Sosial Karanganyar, Waluyo Dwi Basuki menambahkan, bantuan sembako untuk warga yang menjalani isolasi mandiri masih dianggarkan.
Dinas telah memberikan sekitar 1.300 paket kepada warga yang menjalani isolasi mandiri mulai akhir 2020 hingga saat ini.
"Desember kan tidak ada penganggaran. Jadi bon dulu, diganti anggaran awal tahun 2021. Tapi anggaran tahun ini masih menunggu karena ada refocusing," ungkapnya.
Warga yang menjalani isolasi mandiri diberikan paket sembako yang berisi beras, gula, kecap, minyak dan sarden.
Satu paket dianggarkan sekitar Rp 200 ribu.
Rapat koordinasi pelaksanaan Instruksi Bupati tentang perpanjangan PPKM Mikro dan pengoptimalan posko penanganan Covid-19 tingkat desa dan kelurahan di Ruang Podang Setda Karanganyar pada, Senin (1/3/2021).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/petugas-gabungan-ppkm-mikro-mengunjungi-pasien-isolasi-mandiri-di-kecamatan-karanganyar-kebumen.jpg)