Breaking News:

Berita Temanggung

Ratusan Warga Jambon Temanggung Sunggi Tenong ke Makam Kiai Tanjung Anom dan Nyai Tanjung Sari

Ratusan warga Dusun Jambon berkumpul di makam Simbah Kiai Tanjung Anom dan Nyai Tanjung Sari.

TRIBUNJATENG/SAIFUL MA'SUM
Warga Dusun Jambon, Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung menyunggi tenong mengikuti sadran, Jumat (5/3/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, TEMANGGUNG - Sejak pagi buta, ratusan warga Dusun Jambon Desa Gandurejo Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung berkumpul di makam pepunden desa Simbah Kiai Tanjung Anom dan Nyai Tanjung Sari untuk mengikuti nyadran pada, Jumat (5/3/2021).

Sebelumnya, setiap perwakilan keluarga dari 300-an keluarga di Jambon membawa tenong dengan cara disunggi dari rumah hingga makam. Isinya berupa nasi bucu, ayam engkung, olahan sayuran, dan juga buah-buahan hasil bercocok tanam di kebun.

Mereka berkumpul sejak pukul 06.00 WIB dengan membawa tenong kemudian berdoa bersama kepada Allah SWT atas nikmat dan rizki yang diterimanya dalam satu tahun terakhir. 

Seorang tokoh masyarakat, Suwandi (61) mengatakan, sadran pepunden di desanya merupakan upaya melestarikan budaya jawa keIslaman yang diperingati setiap Jumat Kliwon pada bulan Rajab.

Tujuannya, untuk merepresentasikan bentuk syukur masyarakat kepada Allah SWT atas rizki yang berlimpah dalam bentuk kesehatan hingga hasil pertanian.

"Sadranan Punden ini sudah sejak dulu ada. Kami melestarikan budaya jawa keIslaman yang ada di dusun Jambon ini. Biasanya memang dilakukan setahun sekali pada hari Jumat Kliwon bulannya Rajab, bulan jawa," terangnya.

Menurut Suwandi, konon Simbah Kiyai Tanjung Anom dan Nyai Tanjung Sari merupakan pepunden atau junjungan di Dusun Jambon. Makam dua tokoh itu pun dipisah dari lokasi pemakaman umum warga setempat.

Prosesi nyadran di Dusun Jambon diawali dengan bersih-bersih makam sekaligus berziarah di makam pepunden, kemarin sore. Kemudian, dilanjutkan dengan prosesi inti nyadran dengan membawa sejumlah makanan, berkumpul bersama di seputar makam pepunden seraya membaca doa dan tahlil.

Beberapa makanan yang dibawa warga kemudian dibawa kembali oleh masing-masing keluarga untuk disantap bersama anggota keluarga sebagai selamatan. 

"Hari Jumat kliwon bulan Rajab dianggap waktu yang paling tepat yang bisa dipakai warga untuk melestarikan budaya ini. Sambil ziarah dengan membaca doa dan tahlil bersama, ya ada 200-300 an orang. Masing-masing keluarga minimal diwakili satu orang," ujarnya.

Khusus peringatan nyadran ini, warga Jambon tidak ada yang pergi berkebun sebelum nyadran selesai. Mereka meluangkan waktu khusus untuk mengikuti proses nyadran sampai selesai, kemudian baru melakukan kesibukan sehari-hari kembali. 

"Spesial prosesi nyadran, warga benar-benar meluangkan waktu. Sebelum upacara selesai, mereka belum ke sawah. Setelah selametan, baru kembali melaksanakan aktifitas seperti biasanya," tuturnya.

Suwandi mengaku, karena dalam suasana pandemi Covid-19, peringatan nyadran tahun ini tidak dilakukan semeriah tahun-tahun sebelumnya. Beberapa kiyai dari luar daerah yang biasanya ikut juga tidak hadir pada tahun ini. 

Namun, ia mengaku bersyukur karena kekompakan warganya tetap bisa melestarikan budaya desa setempat dari tahun ke tahun. "Kami lestarikan budaya ini dari satu tahun ke tahun selanjutnya. Meski dalam konsep sederhana, namun patut kami syukuri melalui doa bersama," ujarnya. (*)

Penulis: Saiful Ma'sum
Editor: sujarwo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved